Dibalik Kasus Pagar Laut Banten, Rupanya Hal ini yang Membuat Senyap dan Misteri
"Dia (Arsin) diduga mendapat 20.000 ribu/meter di kali kan dengan 116 hektare, maka total sekitar Rp23,2 miliar. Jadi sudah banyak sekali, maka wajar kalau kekayaan dia melesat jadi orang kaya baru di awalnya Kohod, tadinya bukan siapa-siapa," ujar Gufroni di Tangerang, Selasa.
Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data dan informasi yang ada, Arsin diduga telah terlibat dalam praktik pemalsuan SHM dan SHGB sejak 2020.
Dalam pelaksanaan proyek pemalsuan dokumen tanah atau girik untuk SHGB dan SHM, Arsin diduga bekerja sama dengan oknum dari Badan Pertanahan Nasional (BPN) serta Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN (KemenATR/BPN).
"Yang kita pastikan girik-girik palsu dibuat dengan menggunakan materai lama, surat sekdes lama. Jadi jangan beranggapan dia korban. Tidak mungkin karena Arsin yang paling aktif mengurus surat-surat itu," katanya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa selama proses penerbitan sertifikat terhadap 180 bidang tanah yang dilakukan oleh Kades Kohod, ia menerima imbalan sebesar Rp1,5 juta per meter. Setelah sertifikat SHGB atau SHM diterbitkan, nilai pembayaran meningkat menjadi Rp20 juta per meter.
Dilingkup Pemkot Tangerang sosok Candra Eka (CE) banyak dikenal, dirinya pernah menjadi ketua Kelompok Kerja (Pokja) wartawan harian cetak selama 10 tahun, dirinya dikenal akrab dengan kepala daerah setempat muali Wahidin Halim hingga Arief Wismansyah, dikalangan pewarta Kota Tangerang CE dikenal baik, tidak ada pandangan kontroversi tentang dirinya, kalaupun dirinya sempat bergaya hedon itu merupakan kehidupan pribadinya.
Ditahun 2021 tepatnya dibulan Mei dirinya ditampuk menjadi ketua Forum Jurnalis Tangerang (FJT), dirinya sempat mengkritisi kebijakan Kades Wanakerta Kabupaten Tangerang atas pelecehan profesi wartawan. Kemudahan dirinya diterima banyak kalangan, tak terlepas dari style nya yang berpenampilan rapih, berkomunikasi baik, pintar menyimpan rahasia serta berwawasan luas membuat dirinya banyak ditarik segolongan orang yang mempunyai kepentingan individual. Dirinya sempat dalam kancah bisnis bisnis batu bara, namun loncatan karirnya (bisnis batu bara-red) tak begitu menarik perhatian publik, beda dengan kasus pagar laut Banten.
Candra Eka beberapa kali tampil dipublik tapi bukan bersama rekan pewarta, salah satunya terlihat tergabung dalam forum pelangan PDAM Tirta Benteng bersama Hendrizen dan Santos yang juga kader PDIP Kota Tangerang. Terhitung 2 tahun terakhir CE sepengetahuan kalangan tertentu bekerja di PIK, tak banyak banyak yang tahu apa pekerjaannya disana, beberapa saksi mata sebelum kasus pagar laut viral dirinya kerap kali merlihat bersama Septian.
Sejak kasus pagar laut viral dan menyeruak di Indonesia tak semua pewarta di Tangerang yang memberitakan hal tersebut padahal kasus ini ini telah menjadi atensi publik indonesia, hingga diduga sejumlah pejabat yang terlibat melihat langkah CE dianggap mampu mengkondisikan situasi, Padahal langkah tersebut merupakan keinginan pribadi CE dan bukan refresentatif pewarta. Dalam kasus Pagar laut ini diduga ada pengkondisian terselubung, disis lain sejumlah Elemen lain terus bergerak membela nasib nelayan Banten. Beberapa aktivis menyayangkan sikap CE yang kini akhirnya menjadi tersangka.


