Karhutla Terus Berulang, Ketum Maung&Rajawali Hadysa Prana: Jangan Biarkan Keuntungan Sesaat Menghancurkan Masa Depan Bangsa
Saya tidak berdiri di sini untuk sekadar menunjuk siapa salah. Tapi saya berdiri di sini karena hati ini terasa perih. Setiap kali api berkobar, yang menderita bukan hanya pohon atau hewan hutan. Yang menderita adalah warga yang kehilangan rumah dan mata pencaharian.
Yang menderita adalah ibu yang menggendong bayi di tengah asap tebal. Yang menderita adalah petani yang lahannya hangus tanpa tahu harus memulai dari mana lagi.
Kepada Pemerintah: Bangunan megah dan jalan muluk memang kemajuan yang nyata. Tapi jika udara rakyat tak lagi sehat untuk dihirup, maka apa gunanya semua itu? Cegah lebih baik daripada memadamkan. Awasi lebih ketat daripada sekadar bertindak setelah api berkobar. Jangan biarkan izin usaha mengalahkan kelestarian bumi yang menopang kehidupan kita semua.
Kepada Aparat Penegak Hukum: Hukum tidak boleh lemah di hadapan mereka yang membakar bumi demi keuntungan sesaat. Jika hukum tidak tegas, maka api akan terus menyala di mana pun dan kapan pun. Tegaslah, bukan karena ingin menakuti, tapi karena nyawa dan masa depan rakyat jauh lebih berharga daripada keuntungan sesaat.
Kepada para Pengusaha dan Pengelola Lahan: Ingatlah, apa yang kita miliki hanyalah titipan. Kita bukan pemilik bumi, kita hanyalah penjaga yang akan menyerahkannya kepada generasi berikutnya.
Apakah kita ingin menyerahkan bumi yang gundul, gersang, dan berasap kepada anak cucu kita? Atau kita berikan mereka hutan yang rimbun, sungai yang jernih, dan udara yang bersih? Pilihan ada di tangan kita masing-masing.
Dan kepada seluruh Masyarakat Indonesia: Jangan merasa ini bukan urusan kita. Udara yang kita hirup sama, langit yang kita lihat sama, dan bumi yang kita pijak ini satu. Jangan diam saja. Laporkan jika melihat api. Jangan bakar lahan dengan alasan apa pun. Kita semua punya peran, sekecil apa pun.
Maung dan Rajawali berdiri bukan untuk menuduh, tapi untuk mengingatkan: Bumi ini satu, dan kerusakannya tidak mengenal batas wilayah atau jabatan. Jika bumi sakit, kita semua akan merasakan sakitnya. Jika bumi selamat, maka selamatlah kita dan generasi yang akan datang.
Mari kita mulai hari ini. Lebih peduli, lebih waspada, dan lebih bertanggung jawab. Jangan tunggu api datang baru bergerak. Cintailah tanah air kita dengan menjaganya, bukan hanya dengan kata-kata saat upacara bendera, tapi dengan tindakan nyata setiap harinya.


