Karhutla Terus Berulang, Ketum Maung&Rajawali Hadysa Prana: Jangan Biarkan Keuntungan Sesaat Menghancurkan Masa Depan Bangsa
Bogor - Aliansinews id. Asap masih menyelimuti sejumlah wilayah di negeri ini. Langit yang seharusnya cerah berwarna kebiruan, kini kerap tertutup kabut tebal yang menyengat mata dan sesakkan napas. Anak-anak memakai masker bukan karena pandemi, tapi karena udara di tanah kelahiran mereka tak lagi sehat untuk dihirup.
Petugas di lapangan kelelahan memadamkan api yang muncul terus-menerus di titik-titik berbeda. Sementara kita yang berada di tempat yang lebih aman, sekadar melihat berita, menghela napas panjang, lalu kembali ke rutinitas seolah-olah ini bukan masalah kita semua.
Inilah kenyataan pahit yang berulang setiap tahun: kebakaran hutan dan lahan datang, pergi, lalu datang lagi, seolah tak pernah ada penyelesaian yang sungguh-sungguh.
Di tengah keprihatinan yang mendalam ini, Hadysa Prana, Ketua Umum sekaligus Pendiri Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI), menyampaikan pesan terbuka yang tulus dan menyentuh hati — kepada seluruh pemimpin bangsa, aparat penegak hukum, pemerintah di segala tingkat, dan seluruh masyarakat Indonesia.
PESAN TERBUKA HADYSA PRANA SANG MAUNG & RAJAWALI :
"Kepada Bapak dan Ibu Pemimpin Negeri ini, para pengambil kebijakan, para penegak hukum, dan seluruh saudara sebangsa dan setanah air,
Lihatlah ke luar jendela. Dengarkanlah suara di sekitar kita. Udara yang kita hirup setiap hari, kini menjadi sesuatu yang menakutkan. Hutan yang seharusnya menjadi paru-paru bumi, perlahan berubah menjadi abu dan kepulan asap yang tak bertepi.
Lahan yang seharusnya menafkahi anak cucu, terbakar habis dalam hitungan jam, dan butuh puluhan tahun untuk memulihkannya — jika memang bisa pulih kembali.
Kita sering berkata: `Negeri kita kaya raya.` Tapi kekayaan apa yang tersisa jika tanahnya terbakar, airnya keruh, udaranya tak layak hirup, dan anak-anak kita harus tumbuh dengan paru-paru yang rusak sebelum mereka dewasa?


