Disebut Identik Sexualitas, Mitos “SOBRAH LONTE” Dipercaya jadi Ritual Khas di Gunung Kemukus Sragen Jawa Tengah
Di versi yang lain juga di kisahkan, runtuhnya kerajaan Majapahit pada tahun 1478 di gantikan kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah. Konon di ceritakan Raden Patah mempunyai putra bernama Pangeran Samudro yang berperilaku kurang terhormat, karena jatuh cinta kepada ibunya sendiri, R.A. Ontrowulan.
Namun cinta Pangeran Samudro rupanya juga diterima oleh ibunya. Ketika Raden Patah mengetahui hubungan ibu dan anak tersebut, Pangeran Samudro dicari dan diburu sampai di Gunung Kemukus. Sementara itu, Ontrowulan yang terlanjur jatuh cinta kepada anaknya, nekad meninggalkan Demak untuk mencari anaknya.
Pencarian Ontrowulan akhirnya di pertemukan dengan Pangeran Samudro, lalu terjadilah suatu pertemuan yang menyedihkan. Keduanya melakukan hubungan intim yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh seorang ibu dan anak.
Sementara itu, kisah perburuan Pangeran Samudro terus berlanjut oleh para prajurit Demak. Sampai akhirnya keberadaan mereka berdua di ketahui di Gunung Kemukus dan berhasil di bunuh oleh prajurit Demak.
Tetapi pada detik detik terakhir sebelum menghembuskan nafas terakhirnya Pangeran Samudro berucap, “Bagi siapa saja yang mempunyai keinginan atau cita-cita, untuk mendapatkannya harus dengan sungguh-sungguh, mantap, teguh pendirian, dan dengan hati yang suci. Jangan tergoda oleh apa pun, harus terpusat pada yang dituju atau yang diinginkan. Dekatkan dengan apa yang menjadi kesenangannya, seperti akan mengunjungi idamannya.(Dhemenane, Pacar gelap; selingkuhan).”
Di versi yang lainnya lagi juga diceritakan, Pangeran Samudro adalah putra tertua istri resmi Prabu Brawijoyo dari kerajaan Majapahit. Setelah menginjak dewasa, Pangeran Samudro di suruh pergi ke dunia luar untuk mengumpulkan berbagai pengalaman yang kelak akan ia pergunakan di kehidupan nantinya. Beberapa tahun berada di dunia luar, Pangeran Samudro kemudian kembali ke istana dan ia jatuh cinta kepada salah seorang selir ayahnya yang bernama R.A. Ontrowulan.
Karena ketampanannya, cinta Pangeran Samudro kemudian diterima. Ketika mengetahui anaknya mencintai selirnya, Prabu Brawijaya sangat marah dan mengusir Pangeran Samudro beserta Ontrowulan keluar dari keraton. Keduanya lantas menetap di Gunung Kemukus sebagai suami-istri yang bahagia.
Tak jauh dari puncak Gunung Kemukus, terdapat sebuah sendang yang sangat disukai oleh R.A. Ontrowulan. Di sendang itu pula Ontrowulan seringkali menghabiskan waktunya duduk bermeditasi sepanjang hari. Menurut cerita, konon sendang tersebut dibuat dengan cara menancapkan sebatang tongkat ke dalam tanah. Sedangkan pohon-pohon besar yang menjadi hutan lebat di sekeling sendang, diyakini oleh penduduk desa berasal dari bunga-bunga pengikat rambut R.A. Ontrowulan.
Kian hari kebahagian mereka terus berjalan, sampai pada suatu ketika Ontrowulan ingin pergi bertapa di sebuah tempat yang jauh untuk waktu yang lama, Pangeran Samudro yang kesepian di tinggal Ontrowulan, lantas jatuh sakit dan meninggal dunia. Oleh penduduk desa, jenazahnya kemudian dimandikan di sendang dan dimakamkan.


