Disebut Identik Sexualitas, Mitos “SOBRAH LONTE” Dipercaya jadi Ritual Khas di Gunung Kemukus Sragen Jawa Tengah
Berasal dari mitos inilah akhirnya menjadi sebuah cara ritual yang dipercaya bisa mendatangkan kekayaan. Karena bagi para pelaku ritual, tak sedikit orang orang yang berhasil memperoleh kekayaan usai mereka melakukan ritual hubungan intim dengan perselingkuhan di Gunung Kemukus selama tujuh kali malam Jumat. Puncaknya, jika kesuksesan duniawi sudah mereka peroleh, maka salah satu pasangan yang sukses tidak boleh melupakan pasangannya.
Dalam beberapa versi cerita dikisahkan, Joko Samudro atau yang lebih di kenal dengan nama Pangeran Samudro adalah salah seorang putra Prabu Brawijaya V, yang lahir dari ibu selir bernama R.A. Ontrowulan, atau yang kerap dipanggil Nyai Ontrowulan. Namun ada juga yang mengatakan bahwa Nyai Ontrowulan sebenarnya ibu tiri Pangeran Samudro, yang kemudian keduanya jatuh cinta.
Diceritakan, pada saat kerajaan Majapahit runtuh, Pangeran Samudro tidak ikut melarikan diri bersama dengan saudara-saudaranya. Pangeran Samudro memilih pergi ke Demak dan belajar ilmu agama kepada Sunan Kalijaga. Beberapa lama berguru dengan Sunan Kalijaga, Pangeran Samudro kemudian di suruh oleh Sunan Kalijaga pergi berguru kepada Kiai Ageng Gugur dilereng Gunung Lawu, tepatnya berada di daerah Jumantono.
Di desa yang sekarang bernama Desa Pandan Gugur, Pangeran Samudro menimba ilmu agama dan filsafat kepada Ki Ageng Gugur, guru yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Setelah beberapa tahun berguru kepada Ki Ageng Gugur, Pangeran Samudro kemudian kembali pulang ke Demak Bintara. Dalam perjalanan pulang ke Demak Bintara, Pangeran Samudro didampingi oleh dua orang abdi setia sembari menyebarkan siar di setiap tempat yang disinggahinya.
Namun saat berada dalam perjalanan, Pangeran Samudro jatuh sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Dua orang abdi Pangeran Samudo lalu menyampaikan kabar berita duka ke Kerajaan Demak. Mendengar berita kematian saudaranya, Sultan Demak Bintoro lantas menyuruh kedua orang abdi tersebut menguburkan jasad Pangeran Samudro di tempat beliau wafat.
Oleh kedua orang abdinya, Pangeran Samudro kemudian di makamkan di sebuah bukit yang selalu tampak kabut hitam pada saat musim kemarau dan penghujan datang. Kabut yang menyerupai bentuk kukusan itu, akhirnya menjadi nama bukit yang kemudian di sebut dengan nama Gunung Kemukus.
Mendengar kabar kematian putranya, Nyai Ontrowulan kemudian memutuskan untuk pergi melihat makam Pangeran Samudro. Setibanya di makam, Nyai Ontrowulan merebahkan diri dan memperoleh petunjuk ghaib. Dalam petunjuk ghaib tersebut, Pangeran Samudro berpesona Kalau ingin bertemu dengannya, Nyai Ontrowulan di haruskan lebih dahulu mensucikan diri di sendang yang tak jauh dari Gunung Kemukus.
Usai mensucikan diri di sendang, Nyai Ontrowulan mengurai dan mengibaskan rambutnya. Dari kibasan rambut Ontrowulan berjatuhan bunga bunga penghias rambut. yang kemudian tumbuh menjadi pohon Nagasari.
Usai menyucikan diri di sendang, Ontrowulan kemudian muksa jiwa dan raganya. Sedangkan Sendang yang pernah di pakai untuk sesuci, sekarang di kenal dengan nama Sendang Ontrowulan.


