Gibran dicegat warga saat kunjungan kerja di Jambi, dilapori kerusakan kawasan Candi
Dalam catatan sejarah berdasarkan data yang dirangkum detik.com dalam berbagai sumber, biksu asal Tiongkok, I-Tsing (Yijing), pernah singgah di kawasan ini dalam perjalanan menuju Universitas Nalanda di India. Dalam catatannya, itu I-Tsing menyebut wilayah Melayu sebagai salah satu pusat pembelajaran agama Buddha yang menjadi tempat ribuan biksu memperdalam ilmu sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Tidak hanya itu, Candi Muaro Jambi sebagai salah satu pusat pendidikan agama Buddha terbesar di kawasan Asia pada masa lampau.
Secara geografis, kawasan Candi Muaro Jambi membentang sekitar 7,5 kilometer mengikuti aliran Sungai Batanghari. Di dalamnya terdapat sedikitnya 115 situs arkeologi, terdiri atas candi, kanal kuno, kolam, tanggul, hingga gundukan tanah yang diyakini masih menyimpan banyak tinggalan sejarah.
Upaya jadikan Candi Muaro Jambi sebagai Warisan Dunia UNESCO
Candi Muaro Jambi telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN). Pemerintah Indonesia juga terus mendorong situs ini memperoleh pengakuan sebagai Warisan Dunia UNESCO (UNESCO World Heritage).
Saat ini, Candi Muaro Jambi telah masuk dalam Tentative List UNESCO, atau daftar sementara warisan dunia. Namun, untuk memperoleh status tersebut, tidak hanya aspek sejarah dan arkeologi yang menjadi penilaian. UNESCO juga melihat bagaimana kawasan itu dilindungi, dikelola, dijaga keasliannya, serta terbebas dari aktivitas yang berpotensi merusak nilai budaya maupun lingkungan di sekitarnya.
Namun, di tengah upaya tersebut, masih terdapat berbagai tantangan. Salah satunya adalah keberadaan aktivitas industri, termasuk stockpile batu bara di sekitar kawasan candi, yang kerap menjadi sorotan berbagai pihak. Aktivitas tersebut dinilai berpotensi mengganggu kelestarian kawasan, baik dari aspek lingkungan, tata ruang, maupun nilai lanskap budaya yang menjadi bagian penting dalam proses penilaian UNESCO nanti.


