Gibran dicegat warga saat kunjungan kerja di Jambi, dilapori kerusakan kawasan Candi

Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan kerjanya di Provinsi Jambi. Dalam kunker Gibran itu, seorang warga mengaku mahasiswa melaporkan soal kerusakan kawasan Candi di Kabupaten Muaro Jambi yang dikelilingi oleh stockpile tambang batu bara.
"Pak Wapres, tolong selamatkan Candi Muaro Jambi dari stockpile batu bara," ucap warga itu kepada Gibran, Kamis (16/7/2026).
Tidak hanya itu, Gibran juga mendengarkan kembali laporan warga tersebut yang sudah miris melihat kondisi situs peninggalan dunia dikelilingi dan dirusak oleh kawasan stockpile. Dia pun berharap agar kunjungan Wapres ini bisa jadi momentum dalam selamatkan situs cagar budaya Candi Muaro Jambi.
"Selamatkan cagar budaya yang jadi warisan dunia dari kerusakan akibat stockpile batu bara ini pak. Kami ini mahasiswa Jambi yang lahir di Jambi mohon bantuan bapak," kata warga itu memohon ke Gibran.
Mengetahui soal itu, Gibran langsung meresponnya. Gibran bahkan sambil bertanya mengenai soal Laporan warga itu tentang stockpile batu bara yang berada di kawasan Candi Muaro Jambi.
"Ini stockpile batu bara seharusnya tidak boleh berada di sekitar cagar budaya. Ini seharusnya cagar budaya tidak boleh ada yang mengganggu," respon Gibran.
Gibran bahkan, bertanya ke warga itu mengenai soal aktivitas stockpile batu bara tersebut yang masih aktif. Dia juga mempertanyakan dan akan mencari tahu siapa pemilik perusahaan Stockpile Batubara yang berada di kawasan Candi.
"Ini perusahaan milik siapa, ini mesti dicari tahu, seharusnya cagar budaya tidak boleh diganggu oleh aktivitas tambang," sebut Gibran.
Gibran juga menegaskan akan menindaklanjuti soal aktivitas stockpile tambang batu bara tersebut yang berada di kawasan milik Candi Muaro Jambi. Dia juga mengancam akan mencari tahu soal perusahaan tambang tersebut dan akan mengambil langkah tegas sebagai bentuk tindaklanjut laporan warga.
Gibran juga menyampaikan apakah Gubernur Jambi Al Haris mengetahui soal aktivitas stockpile batu bara tersebut. Dia pun sambil menegaskan supaya Gubernur Jambi ikut merespon keluhan warga agar aktivitas stockpile batu bara segera ditinggalkan di kawasan Candi Muaro Jambi.
"Ini pak Gubernur tau gak ya soal ini, pak Gubernur?," Tanya Gibran.
Lalu kemudian dengan tegas Gibran menyampaikan ke warga akan menindaklanjuti laporan warga mengenai soal rusaknya cagar budaya akibat dikelilingi stockpile batu bara.
"Ini akan kita tindaklanjuti ya," tegas Gibran.
Diketahui, persoalan aktivitas stockpile batu bara di sekitaran kawasan Candi Muaro Jambi tersebut sudah sejak lama terjadi. Bahkan, sejak masa kepemimpinan Presiden ke-7 Joko Widodo persoalan aktivitas stockpile batu bara ini sudah pernah dilaporkan namun tak juga kunjung ada tindakan.
Tumpukan batu bara yang menjulang tinggi seperti gunung itu hingga kini masih mengepung bagian dari situs di Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi tersebut. Dari data yang diketahui terdapat ada sekitar 5 atau 6 perusahaan tambang Batubara yang menjadikan kawasan Candi untuk mengoperasikan TUKS dan stockpile batu bara.
Candi Muaro Jambi jadi komplek percandian terluas di Asia Tenggara
Di tepian Sungai Batanghari berdiri salah satu warisan peradaban terbesar di Nusantara, yakni Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Candi Muaro Jambi. Situs ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Jambi, tetapi juga Indonesia karena merupakan kompleks percandian Hindu-Buddha kuno terluas di Asia Tenggara dengan luas mencapai 3.981 hektare.
Kompleks percandian ini diperkirakan berkembang antara abad ke-7 hingga ke-13 Masehi dan diyakini menjadi bagian penting dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya hingga Kerajaan Melayu Kuno. Para arkeolog menilai kawasan tersebut bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga menjadi pusat pendidikan, penelitian keagamaan, dan aktivitas intelektual di Asia Tenggara pada masanya.
Dalam catatan sejarah berdasarkan data yang dirangkum detik.com dalam berbagai sumber, biksu asal Tiongkok, I-Tsing (Yijing), pernah singgah di kawasan ini dalam perjalanan menuju Universitas Nalanda di India. Dalam catatannya, itu I-Tsing menyebut wilayah Melayu sebagai salah satu pusat pembelajaran agama Buddha yang menjadi tempat ribuan biksu memperdalam ilmu sebelum melanjutkan perjalanan ke India.
Tidak hanya itu, Candi Muaro Jambi sebagai salah satu pusat pendidikan agama Buddha terbesar di kawasan Asia pada masa lampau.
Secara geografis, kawasan Candi Muaro Jambi membentang sekitar 7,5 kilometer mengikuti aliran Sungai Batanghari. Di dalamnya terdapat sedikitnya 115 situs arkeologi, terdiri atas candi, kanal kuno, kolam, tanggul, hingga gundukan tanah yang diyakini masih menyimpan banyak tinggalan sejarah.
Upaya jadikan Candi Muaro Jambi sebagai Warisan Dunia UNESCO
Candi Muaro Jambi telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN). Pemerintah Indonesia juga terus mendorong situs ini memperoleh pengakuan sebagai Warisan Dunia UNESCO (UNESCO World Heritage).
Saat ini, Candi Muaro Jambi telah masuk dalam Tentative List UNESCO, atau daftar sementara warisan dunia. Namun, untuk memperoleh status tersebut, tidak hanya aspek sejarah dan arkeologi yang menjadi penilaian. UNESCO juga melihat bagaimana kawasan itu dilindungi, dikelola, dijaga keasliannya, serta terbebas dari aktivitas yang berpotensi merusak nilai budaya maupun lingkungan di sekitarnya.
Namun, di tengah upaya tersebut, masih terdapat berbagai tantangan. Salah satunya adalah keberadaan aktivitas industri, termasuk stockpile batu bara di sekitar kawasan candi, yang kerap menjadi sorotan berbagai pihak. Aktivitas tersebut dinilai berpotensi mengganggu kelestarian kawasan, baik dari aspek lingkungan, tata ruang, maupun nilai lanskap budaya yang menjadi bagian penting dalam proses penilaian UNESCO nanti.











