LAI Santai Tanggapi Surat Paguyuban Orang Jawa Perantauan “Ojo Dumeh” yang Viral
“Ngaku itu kalau yang bersangkutan yang ngomong sendiri. Kalau produk media ya tanya ke wartawannya info atau sumbernya dari mana.. Itu penggunaan bahasa yang sangat buruk tapi sangat dipaksakan sehingga jadi tendensius,” lanjutnya.
Saat ditanya tentang siapa H. Djoni Lubis sebenarnya Safei hanya tersenyum.
“Selidiki saja sendiri. Ke TNI, ke Polri, kalau perlu ke BIN,” kata dia.
Kemudian masalah psikologi komunikasi, Safei menjelaskan dari aspek psikologi komunikasi surat paguyuban itu justru seperti membuka boroknya sendiri.
“Secara psikis itu menimbulkan kesan terjadi kepanikan. Kalau memang bersih kenapa risih dengan kehadiran LAI di Lampung?” kata Safei.
Reaksi berlebihan itu justru menimbulkan kesan bahwa selama ini banyak pihak yang merasa nyaman dan diuntungkan dengan situasi dan kondisi yang ada.
“Lalu LAI hadir serta terjun langsung ke tengah masyarakat dan pihak-pihak yang sudah nyaman dan diuntungkan itu lalu merasa terancam kepentingannya, panik. Kesannya seperti itu,” Safei menambahkan.
Selanjutnya mengenai penguasaan masalah. Dalam hal ini juga sangat buruk, karena hanya berdasarkan asumsi-asumsi.
“Beda jauh dengan kaidah di LAI yang mengharuskan investigasi terlebih dahulu secara mendalam untuk mendapatkan data-data yang akurat. Bukan sekedar asumsi, apalagi asumsi di atas asumsi,” kata Safei sambil tertawa.