Kriminalisasi Berbau Politis Dalam Pilkada Halmahera Selatan
“Berbau politis? Saya tidak bisa memastikan. Tapi rasa-rasanya iya,” ujarnya lirih saat ditemui oleh Media AI.
Dia khawatir hukuman terhadap dirinya tidak obyektif, tidak benar-benar berlandaskan keadilan dan kebenaran.
“Saya hanya bisa menduga-duga. Apa mungkin saya dihukum untuk menunjukkan ada kesalahan dari calon yang saya dukung sebagai simpatisan? Apa mungkin ini hanya untuk menutupi dugaan pelanggaran yang saya dengar jadi bahan gugatan di MK? Saya hanya bisa menduga-duga dan berharap ada yang bisa membantu saya agar terbebas dari jerat hukum ini,” lanjutnya.
Bahri optimis, meski terjal, jalan untuk menuju keadilan untuk dirinya itu masih terbuka lebar.
“Bapak-bapak para penegak hukum itu saya yakin masih punya hati nurani. Bapak-bapak itu tentunya jauh lebih pandai dan bijak dari saya, dan pasti bisa menimbang-nimbang bagaimana jika yang tertimpa masalah seperti saya ini adalah orang dekat mereka?” ujar Bahri.
Kini dia hanya bisa berharap dengan bantuan dan pendampingan dari Lembaga Aliansi Indonesia dia bisa terbebas dari masalah tersebut.
Selain bertemu langsung untuk wawancara, Bahri juga telah membuat kronologis tertulis yang salinannya diberikan kepada Media AI.
Dari kronologis yang Bahri sampaikan, dapat dirangkum sebagai berikut:
Bahwa Bahri adalah seorang Tokoh Masyarakat yang berusaha mengambil peran dalam upaya melakukan perubahan dalam tata kelola pemerintahan, melalui keikutsertaan atau menjadi salah satu tokoh yang mendukung salah satu Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati, dalam pemilihan umum Kepala Daerah tanggal 09 Desember 2020 di wilayah Kabupaten Halmahera Selatan.


