Isu Pemakzulan dan Hak Angket, "Premanisme" Kaum "Salawi" di Era Demokrasi
Namun karena apa-apa salah Jokowi, penjelasan yang paling mudah, sederhana dan gamblangpun tidak akan pernah masuk ke pikiran mereka. Termasuk masalah harga beras yang melambung, penjelasan apapun akan sia-sia. Pokoknya bagi kaum "salawi" semua salah Jokowi. Seandainya semut bunting bisa dijadikan alasan untuk mencaci-maki Jokowi, jadilah itu barang.
Kaum "salawi" dari ketiga kelompok tadi juga tak bosan melakukan aksi "premanisme". Tentu premanisme ini bukan dalam arti pengertian umum sehari-hari, namun "premanisme" dalam arti suka menimbulkan kegaduhan, rasa tidak nyaman, bahkan rasa tidak aman atau menebarkan ketakutan-ketakutan.
Di media sosial (medsos) dan group-group Whatsapp (WA) kaum "salawi" terus membuat kegaduhan, menimbulkan rasa tidak nyaman dan menebarkan ketakutan bahwa bahwa bangsa dan negara ini sudah sedemikian rusaknya akibat seorang Jokowi, dengan posting-posting model copy-paste atau main forward yang kemungkinan besar mereka sendiri tidak faham. Tidak penting bagi kaum "salawi" itu untuk menyaring berita, tidak penting soal benar-salah, tidak ada urusan membuat gaduh dan membuat tidak nyaman. Bagi mereka yang penting bisa menumpahkan kebenciannya pada Jokowi.
Di dunia politik pun aksi "premanisme" tak pernah berhenti. Tak puas dengan isu kecurangan yang bahkan sudah dihembuskan jauh-jauh hari sebelum pemilu, lalu dimunculkan isu pemakzulan, kemudian hak angket oleh pihak yang kalah pilpres. Lalu ketiga isu itu seolah berkelindan erat menjadi satu paket.
Kaum "salawi" tak peduli isu yang mereka usung masuk akal atau tidak, cukup bukti atau tidak. Yang penting mereka "misuh-misuh" dan yang "dipisuhi" ya Jokowi.
Mereka terus membuat kegaduhan, mengancam-ancam, yang memang bisa leluasa dilakukan dengan berlindung di balik kata sakti: demokrasi.
Kaum "salawi" tak akan berhenti melakukan "premanisme" politik, karena mereka tidak hidup di alam nyata. Mereka hidupnya di alam mimpi, terbalut halusinasi, sebagian karena doktrin yang sudah telanjur mencuci otak mereka, sebagian lagi karena kebencian yang sudah sampai di ubun-ubun terhadap Jokowi.
Sementara mayoritas rakyat yang terepresentasi dari 'approval rating' Jokowi yang 80-an persen itu lebih banyak menahan diri, lebih banyak memakai prinsip "sing waras ngalah".
Jika terpancing hanya akan menimbulkan konflik horizontal yang tidak perlu, yang artinya tujuan kaum "salawi" akan tercapai yaitu terjadinya kekacauan yang lebih parah di negeri ini.


