Gagal Panen Mengintai Mesuji (Bagian 3/Habis)
“Ini Pak Dewan dan Pak BDD, Mbah?” Jumangin memperkenalkan Hartopo dan Ngadiman meski tak ada yang memintanya.
“BPBD!” seru Arif sambil terkekeh. “Ojo diganti-ganti!”
“Weh, lha. Opo salah”
“Badan Penanggulangan Bencana Daerah,” Ngadiman menyempurnakan. "Disingkat BPBD."
“Oh, ya. Maaf, Pak. Maksud saya itu: BPBD,” lalu Jumangin beralih pada perempuan tua itu. “Silakan Mbah, ceritakan saja apa masalahnya,” ia berkata pada sosok yang kemudian diketahui adalah Mbah Salam.
“Tak ada lagi harapan. Tikus membuat padi tak bersisa,” ucap Mbah Salam dengan suara agak berat lalu mulai menceritakan banyak hal terkait kegagalan sawahnya. Sesekali Arif dan Jumangin juga menimpali untuk memperkuat dan keadaan itu sempat membuat suasana menjadi senyap.

Dari kejauhan, suara adzab magrib mulai berkumandang melalui pengeras suara beberapa penjuru masjid dan mushala.
Ngadiman berkata: “Kami memang datang karena mendengar laporan terkait kondisi semacam ini, Mbah,” lalu melangkah lebih dekat ke arah Mbah Salam. “Dan karena hal itulah, saya diutus langsung oleh Kepala BPBD, Bapak Sunardi, untuk melakukan cek lokasi sebagai upaya mencari jalan keluar bersama-sama.”


