Gagal Panen Mengintai Mesuji (Bagian 3/Habis)
“Dia siapa?” tanya Ngadiman.
“Arif Wahyudi, Ketua Gapokan desa ini.”
Dengan pertimbangan waktu yang makin redup, setiba di rumah yang dituju, kami semua memilih untuk tidak masuk.
“Kawan-kawan baru saja bubar. Dikira tak jadi ke sini, ” kata Arif yang sejak awal sudah menyambut kedatangan di muka halaman. Dia bergegas menelpon para anggota Gapoktan kembali dan segera bermunculan tak lama berselang. Salah satunya, Jumangin, sahabat lama Hartopo.

“Lhadalah! Kok ora ono opo-opo?” Jumangin yang baru tiba kemudian berbalik dan segera kembali beberapa menit berselang dengan sepelastik minuman stamina yang langsung ia suguhkan. “Biar kalo omong-omongan bisa lebih gayeng!” candanya.
Lagi-lagi, kami kembali tertawa.
Usai Hartopo memperkenalkan Ngadiman dan Ngadiman menyampaikan maksud kedatangan, kami segera memutuskan meninjau lokasi di tengah suasana hampir gelap yang sudah melingkupi areal persawahan. Perjalanan kami mendadak terhenti saat melintasi seorang perempuan baya yang tampak kebingungan di sawahnya. Ngadiman, Hartopo dan semua rombongan segera mendekat.
“Habis, Pak...” ucap perempuan itu setiba kami agak dekat. Suaranya agak bergetar.


