Sekaa Kertih Resmi Dibentuk, Warga Dusun Tihingan Siap Hadapi Perubahan Iklim Bersama PPK Ormawa HMTL Unud, Bali
Salah satu isu yang turut dibahas dalam kegiatan tersebut adalah sulitnya penerapan teba modern (sumur komposter berdiameter besar di halaman rumah) di lingkungan rumah warga, yang disebabkan oleh keterbatasan lahan dan besarnya biaya pembangunan.
Menanggapi hal ini, tim PPK Ormawa HMTL Unud menawarkan solusi alternatif melalui program Biocare, yaitu pembuatan lubang biopori sederhana (lubang resapan yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah) menggunakan pipa PVC berdiameter 4 dim yang dilubangi dan ditutup dengan dop (penutup biopori).
Solusi ini dinilai lebih praktis karena membutuhkan lahan yang minim dan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan teba modern. Untuk hasil yang efektif, setiap kepala keluarga disarankan memasang 3 hingga 4 unit biopori di pekarangan rumah.
Program ini mendapat sambutan positif dari masyarakat karena tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga sesuai dengan keterbatasan ruang yang ada di wilayah Dusun Tihingan.
Dengan terlaksananya kegiatan ini, Tim PPK Ormawa HMTL berharap dapat memperkuat kapasitas masyarakat dalam menghadapi isu-isu lingkungan, sekaligus menciptakan model kolaborasi yang bisa direplikasi di wilayah lain.
Pembentukan Sekaa Kertih menjadi simbol sinergi antara ilmu pengetahuan, teknologi, dan kearifan lokal dalam menjawab tantangan perubahan iklim di tingkat akar rumput.
Program PPK Ormawa ini dijadwalkan akan berlangsung selama 3 bulan ke depan, dengan pendampingan intensif dari tim pelaksana serta dukungan penuh dari ormawa, mitra utama yaitu Bali Wastu Lestari, dan Perguruan Tinggi.
Keberhasilan program ini diharapkan mampu menjadi salah satu percontohan praktik baik pemberdayaan masyarakat berbasis kelompok masyarakat.


