Maung dan Rajawali Sampaikan Pesan Hadysa Prana: Ikuti Wangsit Siliwangi, Jangan Jadi Fosil Peradaban Lama
Ketiga: Terikat Kenyamanan dan Ketakutan Kehilangan. Banyak orang sengaja menutup mata dan telinga karena merasa nyaman dengan apa yang dimiliki saat ini — jabatan, kekayaan, kedudukan, dan kekuasaan. Di dalam hati mereka tersimpan ketakutan besar:
"Jika saya melepaskan semua ini, maka saya bukan siapa-siapa lagi." Ketakutan inilah yang membuat mereka memilih mempertahankan keadaan lama, meskipun sudah jelas tidak lagi berkelanjutan.
TUGAS JALMA HEDAP: MENJAGA DIRI, MEMBIARKAN ALAM BERJALAN
Hadysa Prana menegaskan bahwa pergeseran zaman ini bersifat mutlak dan tidak dapat dihindari. "Alam tidak meminta persetujuan manusia untuk berubah. Hukum alam berjalan sendiri, tepat dan pasti," ujarnya.
Maka, tugas mereka yang telah tersadar — yang disebut Jalma Hedap — bukanlah memaksa orang lain untuk ikut sadar atau berteriak menyalahkan keadaan. Tugas utamanya hanyalah satu: fokus menjaga kestabilan energi diri sendiri, menjaga ketenangan hati, dan memancarkan kedamaian.
"Biarkan proses pembersihan alam berjalan sesuai porsinya. Ketika badai perubahan ini mencapai puncaknya, maka kelompok manusia yang masih bingung, takut, dan terguncang itu, dengan sendirinya akan mencari perlindungan.
Dan ke mana mereka akan berlindung? Kepada manusia-manusia hening, manusia yang tenang, manusia yang memancarkan energi ketenangan dan kedamaian — para Manusa Sunda di Sarambat — manusia sejati yang menjadi cahaya penuntun di tengah gelapnya masa transisi ini," pungkas orang nomor satu di DPP MAUNG & RAJAWALI.
Pesan ini disampaikan sebagai pengingat bagi seluruh elemen masyarakat, khususnya jajaran pengurus dan anggota MAUNG serta RAJAWALI, untuk senantiasa meningkatkan kesadaran diri, memperteguh kebenaran, dan menjadi pelita bagi lingkungan sekitar di tengah arus zaman yang terus berubah.
(Team)


