Maung dan Rajawali Sampaikan Pesan Hadysa Prana: Ikuti Wangsit Siliwangi, Jangan Jadi Fosil Peradaban Lama

Maung dan Rajawali Sampaikan Pesan Hadysa Prana: Ikuti Wangsit Siliwangi, Jangan Jadi Fosil Peradaban Lama
 
BOGOR RAYA
Minggu, 13 Sep 2026  14:59

Karena tidak mampu mendengar maupun merasakan "tiupan suling" — yaitu suara keheningan dan kebenaran sejati — mereka terombang-ambing terbawa arus. Terperosok dalam gelombang berita bohong, terbelah oleh pertikaian politik, dan mudah diadu domba.

"Mereka menghabiskan sisa tenaga dan umurnya hanya untuk saling menyalahkan, bertikai berebut sisa-sisa reruntuhan sistem lama yang sudah tidak berguna lagi. Tanpa sadar, mereka menjadi penonton sekaligus korban dari apa yang disebut sebagai `panggung pembersihan` alam. Ini bukan hukuman, melainkan proses penyaringan dan pemurnian yang pasti berjalan," tegasnya.

Pada akhirnya, Hadysa Prana mengingatkan: mereka yang menolak berkembang dan meninggalkan sifat lama, akan tersaring secara alami oleh jalannya zaman. Terpilih atau tertinggal, itu semata-mata hasil dari kesadaran masing-masing.

"Mereka akan kelelahan lahir dan batin luar biasa, karena terus memaksakan gaya hidup serakah dan mementingkan diri sendiri di atas bumi yang sedang menuntut pemulihan dan kemurnian kembali. Di masa depan, mereka hanya akan menjadi seperti fosil peninggalan peradaban yang sudah berlalu," tambahnya.
  
TIGA TABIR YANG MENGUNCI KESADARAN MANUSIA

Lebih jauh, Hadysa Prana membedah akar masalah mengapa banyak orang belum mau maupun belum mampu tersadar dari keadaan ini. Ada tiga tabir besar yang menutup pandangan batin mereka, sehingga kebijaksanaan dan pengetahuan purba yang tersimpan di dalam diri tetap tertidur lelap:

Pertama: Terbelenggu Jagat Pikiran dan Logika Transaksional. Banyak orang mendewakan akal pikiran semata dan mengukur segala sesuatu hanya dengan hitungan untung-rugi materi. Bagi mereka, tanda-tanda alam seperti letusan gunung, perubahan iklim, maupun pergeseran zaman hanyalah kejadian fisik biasa.

Mereka menganggap segala hal yang tidak bisa dihitung dengan angka uang sebagai hal mistis atau sekadar cerita dongeng. Akibatnya, kepekaan batin mereka mati rasa, tertimbun tumpukan logika keserakahan dan keuntungan sesaat.

Kedua: Terhanyut Polusi Informasi dan Kebisingan. Kebisingan dunia modern kini bertindak selaku pengacak sinyal. Manusia menghabiskan waktu berjam-jam tenggelam dalam layar gawai, terjebak algoritma media sosial, dan terbiasa dengan gaya hidup serba instan.

Polusi gelombang informasi dan elektromagnetik ini menutup akses masuknya getaran halus dari tatanan baru The New Grid maupun kebenaran alam semesta. Gelombang otak manusia selalu berada dalam ketegangan tinggi, sehingga tidak mampu menangkap pesan lembut namun pasti dari alam.

<<
1
2
3
Berikutnya
Tampilkan Semua
TAG:
#
Lembaga Aliansi Indonesia
Berita Terkait
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Indeks Berita