Maung dan Rajawali Sampaikan Pesan Hadysa Prana: Ikuti Wangsit Siliwangi, Jangan Jadi Fosil Peradaban Lama

Maung dan Rajawali Sampaikan Pesan Hadysa Prana: Ikuti Wangsit Siliwangi, Jangan Jadi Fosil Peradaban Lama
 
BOGOR RAYA
Minggu, 13 Sep 2026  14:59

Bogor - Aliansinews id. Di tengah guncangan perubahan besar dan pergeseran tatanan kehidupan baru yang dikenal sebagai The New Grid, Hadysa Prana, Ketua Umum sekaligus Pendiri LSM Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (MAUNG) serta Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia (RAJAWALI), mengangkat kembali dan mengupas makna mendalam dari naskah kuno Uga Wangsit Siliwangi. 

Pesan luhur ini dianggap sangat relevan dan menjadi cerminan nyata nasib manusia masa kini, terutama bagi mereka yang belum mau maupun belum mampu membuka kesadaran diri.

Dalam uraiannya, Hadysa Prana mengutip kalimat petuah agung Siliwangi:

"Loba nu hulu-gundung, loba nu manggul karung... loba nu katumpuan ku hulu, loba nu katajongan ku suku"
(Banyak yang bingung tanpa arah, banyak yang memikul beban berat... banyak yang tertindih pikiran sendiri, banyak yang terinjak dan terjebak oleh ego mereka sendiri)

Menurutnya, kalimat ini telah memetakan dengan sangat jelas dan lugas apa yang sedang dialami oleh mereka yang masih tertutup mata batinnya. Secara rasional, psikologis, maupun spiritual-energetik, manusia yang belum tersadar kini sedang dilanda krisis mental yang dalam dan kehilangan arah hidup.

"Kita sedang menyaksikan bagaimana frekuensi getaran bumi semakin meninggi, sejalan dengan bergeraknya energi poros Ka-Ra-Ka-Twa.

Manusia yang enggan menyelaraskan diri dengan kebenaran alam semesta, akan merasakan benturan hebat dalam dirinya sendiri. Batinnya bergejolak, jiwanya terguncang, dan ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi," urai Hady. Sabtu (12/09/26). 

Ia menjelaskan bahwa gejalanya sangat nyata: kecemasan datang tanpa sebab jelas, kepanikan melanda, stres menjadi penyakit sehari-hari, hingga hati terasa kosong dan hampa.

Segala hal yang selama ini dianggap berharga dan dijadikan pegangan — harta kekayaan, kedudukan, kekuasaan, serta hasil eksploitasi alam dan sesama manusia — tiba-tiba terasa tidak lagi bermakna. Sistem nilai yang dulu dianggap nyaman dan benar, kini mulai rapuh dan runtuh, sehingga banyak orang merasa kehilangan pijakan hidup.

1
2
3
Berikutnya
Tampilkan Semua
TAG:
#
Lembaga Aliansi Indonesia
Berita Terkait
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Indeks Berita