Baku hantam sendiri, 7 tentara AS tewas di kapal induk USS Lincoln
Dalam satu kasus, seorang istri dengan berlinang air mata mengatakan kepada para pejabat dirinya menerima pesan dari suaminya pada hari yang sama. Dalam pesan tersebut, sang suami mengatakan "dia berharap dia tidak bangun besok," menurut salah satu dari sekitar 200 peserta yang hadir dalam pertemuan balai kota di San Diego.
Para pejabat yang memimpin pertemuan tidak memberikan respons langsung terhadap pernyataan tersebut maupun pernyataan serupa. Mereka menyampaikan, para pelaut di atas kapal memiliki akses terhadap petugas kesehatan mental, pendeta, dokter, serta layanan pendukung lainnya.
Para pejabat juga mengatakan pihak layanan berupaya menambah tenaga profesional kesehatan mental untuk ditempatkan pada kapal tersebut.
Kekhawatiran yang muncul dalam pertemuan itu juga sejalan dengan keluhan yang sebelumnya disampaikan para pelaut dan keluarga mereka kepada Stars and Stripes dalam beberapa pekan terakhir.
Persoalan mengenai panjang masa pengerahan tidak hanya muncul dalam keluhan keluarga. Laporan Stripes turut mengutip studi yang diterbitkan pada 2025 dalam jurnal Military Medicine.
Studi tersebut meneliti 956 pelaut yang bertugas pada kapal induk, kapal perusak, dan kapal amfibi. Hasil penelitian menunjukkan ketidakmampuan beristirahat saat dibutuhkan serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan mental dan fisik berkualitas termasuk aspek yang paling menyulitkan selama penugasan militer.
Penelitian itu juga menemukan persoalan lain yang signifikan, seperti kesulitan berkomunikasi dengan keluarga dan teman serta minimnya kesempatan untuk mengurangi stres.
Kondisi tersebut menjadi semakin kompleks ketika para pelaut tidak mengetahui secara pasti kapan masa penugasan mereka akan berakhir.
Thomas Nutzmann, pensiunan kepala bintara Angkatan Laut yang bertugas selama 20 tahun dan menjalani empat kali penugasan, mengatakan ketidakpastian tersebut dapat memberikan dampak besar kepada para pelaut.


