Sekilas Kisah Sosok "JOKO TINGKIR", Petarung Tangguh Penakluk Demak Sekaligus Tokoh Pendiri Keraton Pajang

 
Jumat, 05 Nov 2021  15:15

Sosok Joko Tingkir memegang peran penting dalam berdirinya kesultanan Mataram Islam dengan memberikan Ki Ageng Pemanahan dan putranya, Sutawijaya, wilayah di Kotagede yang nantinya menjadi Ibukota kesultanan Mataram Islam. Kini Kotagede masuk ke dalam wilayah Yogyakarta.

Mengetahui perjalanan Joko Tingkir yang dalam hidupnya tak luput dari balas dendam menjadikan kisahnya menarik untuk diangkat ke dalam pementasan seperti drama atau ketoprak bahkan ahli sejarah. Tak mengherankan jika pada akhirnya ada seorang politisi atau siapapun yang menjadikan kisah Joko Tingkir sebagai contoh dari tema kejadian balas dendam.

Membicarakan Joko Tingkir sejatinya tidaklah lengkap jika tidak menyertakan banyaknya mitos yang menyelimuti kisah-kisah beliau. Saya sendiri mulai mengenal kisah Joko Tingkir saat masih duduk di bangku SD. Saat itu guru menerangkan kesaktian-kesaktian yang dipunyai Joko Tingkir. Seingat saya saat itu pak guru membekali dengan sebuah buku cerita bergambar yang disukai oleh kami, murid-muridnya. Sayangnya saya tidak ingat dengan pasti bagaimana kisah tersebut diceritakan pada masa itu. Sejauh yang bisa saya ingat, terdapat adegan Joko Tingkir mengalahkan siluman buaya saat beliau sedang mengarungi sungai menggunakan rakit bersama rekannya.

Selain itu, saya juga ingat bahwa ada adegan Joko Tingkir sedang berkelahi melawan kerbau besar. Pertempuran sengit tersebut berakhir dengan kemenangan berhasil diraih Joko Tingkir.

Peninggalan Getek Joko Tingkir. Foto: ist

(Ini adalah kayu bagian dari getek/rakit yang dahulu digunakan sebagai perahu oleh Joko Tingkir bersama 3 orang sahabatnya yaitu Monco Nagoro, Wilo Marto, dan Wuragil. Dalam rangka perjalanan dari kediaman Ki Ageng Kebo Kanigoro (Ki Banyu Biru) di Jatingarang Weu Sukoharjo menuju Butuh Plupuh Sragen.

Perjalanannya menyusuri sungai bengawan solo dan berlabuh ditempat yang tidah jauh dari kediaman ayahandanya Ki Ageng Kebo Kenongo/Ki Ageng Butuh, kira-kira 100 meter sebelah selatan makam.

Bagian kayu getek ini diperkirakan sampai sekarang kira2 sudah 400 tahun jika dilihat dari masa kerajaan pajang pada kisaran tahun 1546-1587.) (Ist)

Berita Terkait
Selengkapnya