Pawang Hujan Rara: Warisan Budaya yang Membawa Berkah — DPP Maung Desak Pihak Berwenang Segera Undang ke Kalimantan

 
Kamis, 03 Sep 2026  21:34

Bogor - Aliansinews id. Kebakaran hutan dan lahan yang melanda Kalimantan Barat hingga seluruh penjuru Kalimantan kini bukan lagi sekadar ancaman lingkungan, melainkan bencana besar yang menyengsarakan rakyat. 

Kabut asap pekat menutupi langit, udara tak lagi sehat untuk dihirup, mata air mengering, dan ribuan warga mulai kesulitan mendapatkan air bersih. Musim kemarau yang berkepanjangan membuat tanah retak, sungai menyusut, dan harapan masyarakat perlahan menipis. 

Di saat rakyat membutuhkan pertolongan dan jawaban atas krisis yang berlarut-larut ini, Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LSM MAUNG menyuarakan harapan besar agar pihak berwenang membuka ruang dan menghadirkan sosok yang dikenal luas dengan kemampuannya memohon turunnya hujan: Raden Roro Istiati Wulandari, atau yang akrab disapa Rara.

Permintaan ini disampaikan secara khusus oleh Ketua Dewan Pembina DPP MAUNG, Syarif Achmad, yang menilai bahwa selain penanganan teknis dan penegakan hukum, bangsa ini juga tidak boleh melupakan kearifan lokal, doa, dan cara-cara yang sudah terbukti membawa hasil serta ketenangan bagi masyarakat.

"Banyak sudah yang berjuang, memadamkan api, membagikan masker, mengirimkan bantuan air. Namun bencana ini terus berulang, semakin meluas, dan kini disertai kekeringan yang parah. Langit terasa kering, tanah merindukan air.

Di momen sulit ini, kami dari DPP MAUNG meminta kepada pemerintah dan seluruh pihak berwenang untuk membuka hati dan menghadirkan Ibu Rara — sosok pawang hujan yang namanya pernah menggema dan meyakinkan banyak orang saat diundang ke Sirkuit Mandalika," ujar Syarif Achmad.

*Kisah Perjalanan Panjang Rara: Dari Tanah Papua Hingga Menggetarkan Mandalika*

Syarif Achmad kemudian menguraikan sosok Rara dengan rasa hormat dan kekaguman, menelusuri jejak hidupnya yang penuh makna.

"Raden Roro Istiati Wulandari, yang akrab dipanggil Rara, lahir di tanah Papua pada tanggal 22 Oktober 1983. Ia tumbuh besar membawa warisan budaya dan kearifan leluhur yang kaya. Sejak muda, ia telah belajar, merenung, dan mendalami hubungan manusia dengan alam — bahwa air, hujan, awan, dan angin adalah berkah yang harus dimohon dengan ketulusan, kesucian hati, dan penghormatan kepada Sang Pencipta serta lingkungan sekitarnya." Ungkapnya

Berita Terkait
Selengkapnya