Enam Desa Kesulitan Air Bersih, MAUNG Pusat: Jangan Tunggu Protes Warga, Tindak PETI Sekarang Juga
Bogor - Aliansinews id. Kondisi air Sungai Seberuang di Kabupaten Kapuas Hulu yang semakin keruh dan pekat bagai lumpur, diduga kuat akibat masih berlangsungnya aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI).
Telah memicu gelombang protes mendalam dari masyarakat di enam desa—Bekuan, Bati, Tanjung Keliling, Sejiram, Tajau Mada, dan Nanga Pala. Warga terpaksa menggunakan air sungai yang tercemar untuk kebutuhan sehari-hari, sementara air minum harus mengandalkan air galon dan air hujan.
Di tengah keputusasaan, warga bahkan mengancam akan mengibarkan bendera setengah tiang pada peringatan HUT RI mendatang sebagai tanda duka dan protes atas ketidakberdayaan pemerintah melindungi hak hidup rakyat.
Ancaman ini menjadi sorotan tajam sekaligus teguran keras dari Dewan Pimpinan Pusat Lembaga Monitor Aparatur Untuk Negara dan Golongan (DPP LSM MAUNG).
Kondisi sungai yang keruh pekat itu diyakini warga bukan peristiwa alam semata, melainkan dampak langsung dari pengerukan lahan dan endapan lumpur akibat aktivitas PETI yang terus berjalan tanpa henti.
Kepala Desa Nanga Pala pun membenarkan keterkaitannya, namun hingga kini belum terlihat langkah tegas dari Muspika Kecamatan Seberuang maupun aparat terkait. Warga berujar:
"Jika tidak ada PETI, tidak mungkin sungai keruh seperti lumpur." Kegalauan itu memuncak menjadi ancaman protes simbolis yang menyentuh hati nurani bangsa.
Merespons fakta yang mengiris hati tersebut, Kepala Divisi Investigasi DPP LSM MAUNG Pusat, Budi Gautama, menyampaikan pernyataan sikap yang tegas sekaligus mengkritik pedas ancaman sekaligus penyebab munculnya ancaman itu:
"Ancaman warga untuk mengibarkan bendera setengah tiang di hari kemerdekaan adalah protes paling menyakitkan bagi kita semua.