Proyek Usai Masjid Raya Sheikh Zayed Jadi Salah Satu Ikon di Solo, Tapi Sayang Beberapa Mandornya Masih Punya Kasbon Warung Belum Lunas. Utang Capai Rp 145 Juta Membuat Pemilik Galau Campur Tekor
Untuk pengobat kegundahan dan kegalauan yang didapati, Dian pun secara terbuka sampai mengadu pada Ketua RT untuk mencari solusi. Dengan didampingi RT pula Dian mendatangi PT Waskita selaku kontraktor pembangunan Masjid Raya Sheikh Zayed biarpun belum ada titik terang dan solusi dari badan usaha milik negara itu.
“Saya lapor ke RT saya kemudian di dampingi ke PT Waskita waktu kantornya masih di sini (sekitar lokasi proyek, Red). Saya bilang ke Waskita kalau saya dirugikan segini. Tapi Waskita bilang itu urusan dengan mandor,” tandasnya.
Kini dia telah memegang secarik kertas berisi keterangan dari ketiga mandor itu untuk bertanggung jawab melunasi utang-utang jasa katering di Warung Restu Bunda itu. Keterangan itu ditanda tangani dan dilengkapi dengan materai.
“Katanya karena memang belum menerima uang. Itu yang mereka sampaikan langsung ke saya. Sudah ada kesanggupan dari mandor untuk melunasi, saya sudah pegang keterangan bermaterainya. Sebetulnya pengin saya laporkan (ke polisi, Red) takutnya nanti malah tidak kembali. Jadi ya saya tunggu saja niat baiknya. Semoga ya segera dilunasi,” jelas Dian.
Dikonfirmasi terpisah, salah seorang mandor berinisial G asal Demak membenarkan adanya utang ongkos makan sebesar Rp 30 juta yang belum terbayar kepada warung Dian.
Dia mengaku kehabisan modal sehingga belum mampu membayar kekurangan biaya makan pekerja di bawah koordinasinya.
Meski demikian dia memastikan akan tetap melunasi utang di warung makan tersebut dengan cara mengangsur. Kalau untuk melunasi langsung dia mengaku belum sanggup.
“Saya belum mampu, karena modal habis. Saya juga sampai jual mobil untuk menutup biaya-biaya. Ini juga masih kerja. Saya mampunya ya nyicil sedikit-sedikit. Dari 60 juta sekarang tinggal Rp 30 juta,” kata pemborong salah satu pengerjaan bagian struktur Masjid Syeikh Zayed itu.
Disinggung soal asal muasal tunggakan uang makan yang nominalnya cukup besar itu, G mengatakan, karena banyak pembayaran yang prosesnya cukup lama dari PT Waskita selaku kontraktor. Hal itu akhirnya merembat kepada beberapa hal, termasuk belum dibayarkannya uang makan itu.


