Pesona Kerbau Rawa Pampangan menjadi objek wisata serta Kuliner
Kendati demikian, di antara beragam keunggulan seperti disebut tadi, terdapat beberapa hal yang menjadi ancaman bagi kepunahannya. Misalnya saja makin berkurangnya lahan penggembalaan karena kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dan pembukaan perkebunan kelapa sawit. Seperti yang terjadi di Pedamaran, salah satu habitat alami kerbau rawa pampangan. Karakter perkebunan sawit yang rakus air menyebabkan pada musim kemarau lahan-lahan gambut menjadi cepat kering sehingga mudah terbakar.
Mengutip dari laman resmi Portal Informasi Indonesia, dijelaskan dalam penelitian Abrar Arpan, pakar kerbau rawa dari Universitas Sriwijaya, tercatat sisa populasi kerbau rawa Pampangan hanya 10.000 ekor di tahun 2019.
Jumlah tersebut mengalami penyusutan dari tahun 2010 sebanyak 15.000 ekor. Untuk saat ini, populasi kerbau rawa Pampangan paling banyak di habitat aslinya, Kecamatan Pampangan OKI sebanyak 5.000 ekor
Kondisi tadi menyebabkan ternak kesulitan mendapatkan pakan alaminya berupa rumput hijau yang tumbuh subur di sekitar rawa gambut. Karena itu tak sedikit dari para peternak yang menjual kerbau rawa pampangan. "Sebagian lainnya ditemukan tewas karena kurang makan," kata Abrar berdasarkan riset yang dilakukannya pada 2019.
Hal lain yang cukup mengganggu kelestarian ternak endemik ini adalah usia produktif indukannya yang makin lambat karena ditemukan adanya induk yang baru bunting di usia 15 tahun. Normalnya usia produktif mereka di kisaran 8-9 tahun. Masyarakat setempat pun hanya menjadikan kerbau rawa pampangan sebagai tabungan keluarga dan belum menjadi usaha produktif.
Abrar khawatir, jika tidak dilakukan pelestarian kerbau rawa pampangan, bukan hanya fauna ini saja yang tinggal nama. Tetapi juga produk turunan dari susu yang dihasilkannya pun ikut punah. Tak ada lagi yang bisa memproduksi gulo puan, sagon puan, juadah puan yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Melihat kondisi itu pada 2014 saat Gubernur Sumsel masih dijabat oleh Alex Noerdin, ia mencanangkan pelestarian ternak endemik ini secara in situ dan ex situ. Ia membangun pusat pengembangan kerbau atau swap buffalo center di Desa Rambutan, Kecamatan Rambutan, Banyuasin. Sebuah lahan penggembalaan seluas 1.200 ha berupa rawa gambut dan daratan disiapkan. Ini menjadi pusat pengembangan dan pelestarian ternak kerbau rawa terintegrasi pertama di Indonesia.
Keseriusan itu juga ditunjukkan dengan pengiriman 4 orang pakar ternak dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dinas Peternakan, serta Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah Sumsel mengikuti pelatihan manajemen budi daya dan industri kerbau ke International Buffalo Federation (IBF) di Roma, Italia, Agustus 2014 silam. Pemerintah Provinsi Sumsel juga melakukan studi banding ke Philippine Carabao Center di Kota Munoz, Nueva Ejica, Filipina. Ini adalah salah satu pusat pengembangan kerbau terbaik di Asia.


