Pesona Kerbau Rawa Pampangan menjadi objek wisata serta Kuliner
Di masa Kesultanan Palembang awal abad 19, sejumlah indukan kerbau bersama para penggembalanya didatangkan langsung dari kawasan Teluk Benggala. Indukan-indukan unggul dari India itu kemudian dikawinkan dengan kerbau lokal. Kesultanan menempatkan kerbau-kerbau tersebut di kawasan rawa gambut Pulau Kuro yang kaya akan makanan alami berupa rumput hijau.
Menurut pakar kerbau rawa dari Universitas Sriwijaya Palembang Abrar Arpan, secara visual hewan ternak ini terlihat memiliki kekerabatan dengan murrah, jenis kerbau rawa dari Punjab, India. Ini adalah jenis kerbau rawa unggul dengan ciri khas garis chevrons, yaitu terdapat warna putih terang di bawah leher membentuk setengah lingkaran atau seperti bulan sabit.

Kerbau rawa pampangan, menurut dosen Peternakan Fakultas Pertanian Unsri itu, terpelihara pada suatu ekosistem pasang surut tahunan. Sehingga memiliki perilaku makan (feeding behavior) yang khas karena dibentuk oleh lingkungannya. Terutama kemampuan berenangnya yang cukup jauh serta dapat menyelam untuk mencari dan memakan tumbuhan hijau di dasar rawa.
Seperti halnya murrah, kerbau rawa pampangan, menurut Abrar, dikenal sebagai ternak tipe dwiguna yaitu penghasil daging dan susu. Kerbau-kerbau rawa pampangan menghasilkan susu atau puan dan menjadi bahan baku gulo puan, semacam fermentasi susu kerbau dan gula. Gulo puan ini adalah makanan favorit di lingkungan kesultanan pada masanya.
Teknik memerah susu kerbau rawa pampangan tak seperti pada sapi, susah-susah gampang. Untuk mendapatkan susu dari induknya, perlu melibatkan anak kerbau atau gudel di dalam prosesnya. Gudel akan dibiarkan dulu menyusui pada induknya. Dan beberapa saat kemudian si anakan dipisahkan dari induknya untuk dilanjutkan ke proses pemerahan susu.
Doktor bidang produktivitas hewan pada Program Bioresource Mie University, Jepang, itu menjelaskan, jika proses di atas tidak dilakukan, maka susu yang keluar akan sedikit dan bahkan tidak akan keluar sama sekali. Seekor indukan dapat menghasilkan 800-1.200 liter susu dalam masa laktasi yang berlangsung selama 200-300 hari.
Saat ini, tak hanya gulo puan yang bisa dibuat dari susu kerbau pampangan. Kudapan lainnya, seperti sagon puan, juadah puan, srikaya puan, dan minyak kerbau, pun bisa. Dibutuhkan setidaknya 10 liter susu kerbau pampangan untuk menghasilkan 4 kilogram gulo puan atau sagon puan. Produk olahan susu kerbau pampangan tadi bernilai jual tinggi.
Untuk tiap kilogram gulo puan, kita harus menebusnya dengan harga tak kurang dari Rp80.000 dan seharga Rp150.000 untuk tiap kilogram sagon puan. Selain daging dan susu, kotoran kerbau pampangan juga dimanfaatkan masyarakat di kawasan rawa gambut sebagai pupuk dan bahan baku biogas.


