Kendaraan Listrik Ramah Lingkungan, Suatu Keniscayaan
Sejatinya, Indonesia bisa belajar dari Cina, Amerika Serikat, dan Norwegia dalam membentuk ekosistem kendaraan listrik. Kendaraan listrik di negara-negara tersebut tumbuh pesat lantaran membatasi penjualan kendaraan bermotor berbahan bakar minyak. Di satu sisi, insentif diberikan dan infrastruktur dikembangkan.
Pajak untuk pembelian kendaraan listrik dihapus. Pendanaan dan subsidi pembangunan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) digelontorkan oleh pemerintah di negara-negara tersebut.
Di Norwegia, sejak 1990 seabrek insentif telah diberikan oleh parlemen/pemerintah Norwegia untuk kendaraan beremisi nol (zero emission vehicle/ZEV), khususnya kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB). Sebut saja pembebasan pajak impor (sejak 1990), pengecualian dari PPN 25 persen untuk pembelian KBLBB, pembebasan pajak jalan (1996-2021), yang kemudian diberlakukan mulai 2022.
Sementara , di negara tetangga Norwegia, Eslandia, impor KBLBB juga tidak dikenakan pajaak. Namun, pembebasan PPN (25,5 persen) untuk KBLBB dibatasi sampai dengan nilai 6 juta krone Eslandia (46.000 dollar AS).
Menko Perekonomian Airlamgga Hartarto saat membuka GIIAS 2022 menyebut pemerintah sudah mengeluarkan sejumlah insentif dan regulasi untuk memdorong penggunaan mobil listrik. Harapannya, ekosistem mobil listrik dengan harga terjangkau bisa terbangun. Pemerintah berencana merevisi Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) Nomor 27 Tahun 2020 tentang Spesifikasi, Peta Jalan Pengembangan, dan Ketentuan Penghitungan Tingkat Komponen Dalam Negeri Kendaraan Bermotor Dalam Negeri Kendaraan Listrik Berbasis Baterai.
Rencananya, pemerintah memulai percepatan penggunaan mobil listrik pada momentum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 yang akan digelar di Bali, November 2022. Sejauh ini ada sejumlah unit mobil listrik dari Hyundai model Genesis yang akan digunakan oleh para kepala negara G-20. Ada pula mobil listrik dari Toyota Lexus dan Wullling Air EV yang akan digunakan oleh para pejabat tinggi dibawah kepala negara saat KTT G-20.
Proyek percepatan penggunaan kendaraan listrik sangat penting karena penetrasi kendaraan bermotor masih sangat rendah. Hingga akhir September 2021, pangsa pasar kendaraan bermotor listrik berbasis baterai atau battery electric vehicle (BEV) memang hanya 0,1 persen (611 unit) terhadap total penjualan kendaraan bermotor sebanyak 627.537 unit (Kompas, 25/11/2021).
Untuk diketahui, pemerintah menargetkan 15 juta kendaraan listrik yang terdiri dari 2 juta unit roda empat dan 13 juta unit roda dua, beroperasi di Indonesia pada 2030. Target tersebut dapat menghemat impor BBM setara 77.000 barel per hari.
Penghematan impor tersebut juga berhasil menghemat devisi senilai 1,8 miliar dollar AS dan menurunkan emisi gas karbon sebanyak 11,1 juta ton. Rencana tersebut akan diperkuat dengan membangun infrastrukur berupa SPKLU di 2.400 titik dan Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) di 10.000 titik sampai 2025. PLN memastikan bahwa pengisian daya kendaraan listrik bisa juga dilakukan di rumah pelanggan, apartemen, pusat perbelanjaan, atau di perkantoran.


