Gagal Panen Mengintai Mesuji (Bagian 2)

“Yang muda kok ya ndak mau ngalah,” kata Hartopo sambil tertawa begitupun dengan saya.
Menyeruput kopi yang masih berasap, Ngadiman segera menyampaikan maksud kedatangan setelah Hartopo membuka dengan perkenalan dan pada saat yang sama, anggota Gapoktan yang lain sudah berkumpul termasuk kawan lama Hartopo, Rosid.
“Jadi, ini hanya fokus pada masalah kekeringan akibat air asin saja? tanya Heri usai Ngadiman menghentikan ucapan.
“Sebenarya tidak, Mas,” jawab Hartopo. “Hanya saja, saya dan kawan-kawan di Komisi Tiga DPRD memang membidangi Badan Bencana, salah satunya,"
Seperti halnya pada Gapoktan Way Puji, Hartopo dan Ngadiman juga meminta agar semua kendala segera didata sebagai acuan bagi Pemerintah Daerah untuk menentukan langkah dan solusi.
“Dalam hal ini, kita memang tidak mungkin melakukannya sendiri,” kata Hartopo.
Usai berdiskusi dalam waktu tak kurang 30 menit, pergerakan kembali berlanjut menuju sawah di lokasi SK 39 A yang lumat oleh hama tikus dan kali ini, kami semua melakukannya dengan bermotor. Berselang beberapa menit setelah itu, pemantauan berlanjut ke SK 39 B dan seperti sebelumnya, setelah tiba, Hartopo dan Ngadiman segera melompat ke hamparan sawah diikuti oleh semua Gapoktan. Malang bagi Rosid, kakinya terjebak ke hamparan lumpur sedalam betis hingga ia harus rela menjadi bahan tertawaan.
“Asem tenan!” Rosid berseru sambil melangkah menuju kanal, mencuci kaki dan sandal.

