Ekspresi Data: Mengapa Susah Mengikis Popularitas Jokowi?
Hantaman juga datang dari media. Ini contohnya dari majalah Tempo: “Dinasti Politik Jokowi Menghancurkan Demokrasi.” Majalah Tempo memilih sikap menjadi aktivis, mengeritik Jokowi secara beruntun dan bertubi-tubi.
Bahkan juga sebagian Civil Society ikut mengeritik, seperti judul berita ini: “Mengapa Civil Society Sangat Kritis Kepada Jokowi?”
Namun apa yang terjadi? Jokowi tetap populer di mata mayoritas rakyatnya, secara agregat. "Approval ratingnya masih 79,1%", di akhir November, setelah lebih dari 40 hari ia dikritik habis-habisan.
Bahkan terjadi efek elektoral yang kuat sekali kepada pengeritik utamanya. Yaitu eksodus dari para pendukung Jokowi yang pergi dari Ganjar Pranowo dalam jumlah besar.
Pendukung militan Jokowi memberi respon cukup dengan memindahkan dukungan, dari Ganjar ke Prabowo atau ke Anies Baswedan.
Ini ikut menjelaskan mengapa elektabilitas Prabowo terus menerus naik, elektabilitas Anies juga terus-menerus naik. Sementara elektabilitas Ganjar merosot drastis, dan sedikit lagi akan dilampaui oleh Anies Baswedan.
Mengapa Jokowi tetap populer setelah dihantam sana dan sini?
Pertama, hubungan Jokowi dengan sebagian besar pendukungnya sudah sangat emosional. Ini hubungan yang sudah terbina panjang sejak lama.
Jokowi menjadi walikota dua periode, gubernur dan presiden juga dua periode. Sudah lebih dari 20 tahun hubungan batin ini terbina dan terus terjaga.


