Ekshumasi Sutrimo rampung, butuh 2-3 minggu ungkap penyebab kematian
Kondisi tersebut membuat tubuh dinilai mengalami perubahan pascakematian sehingga pemeriksaan secara visual menjadi terbatas.
"Karena jenazah sudah hampir tiga minggu, secara visual hampir semuanya mengalami perubahan, warna dan sebagainya. Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium secara lebih mendalam," ujarnya.
Tim forensik juga mengambil sampel swab setelah mendapat informasi bahwa Sutrimo sempat mengeluarkan cairan dari hidung dan mulut saat meninggal.
"Pada waktu kami ekshumasi tadi sudah tidak ada, tetapi kami mencoba mengambil swab untuk pemeriksaan laboratorium. Kita tunggu hasil laboratorium tersebut," ucapnya.
Selain swab, sejumlah bagian tubuh yang ditemukan memiliki kelainan turut diambil untuk pemeriksaan. Sampel tersebut termasuk kulit serta organ dalam seperti lambung dan jantung.
Seluruh sampel akan diperiksa di laboratorium untuk mencari petunjuk medis yang dapat membantu menentukan penyebab kematian.
Sementara itu, Karodokpol Pusdokkes Polri sekaligus Ketua PDFMI Brigjen Sumy Hastry Purwanti mengatakan, tim forensik telah memastikan identitas jenazah berdasarkan sejumlah ciri fisik.
Salah satu petunjuknya, kondisi jempol kaki kiri yang tidak memiliki kuku atau bagian tertentu. Kondisi tersebut sesuai dengan informasi yang diberikan keluarga.
"Setelah proses ekshumasi atau bongkar kubur, kemudian kami lakukan pemeriksaan luar. Kami bisa mengidentifikasi bahwa jenazah yang diperiksa adalah almarhum Sutrimo berdasarkan ciri jempol kaki kiri yang tidak ada," ujar Brigjen Hastry.


