Siswa bawa bom ke sekolah, sosiolog UGM soroti kegagalan sistem pendidikan
Kasus seorang siswa yang diduga membawa dan merakit bom rakitan di lingkungan MAN 3 Kota Padang dinilai menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan Indonesia.
Peristiwa tersebut tidak hanya dipandang sebagai persoalan kriminal, tetapi juga mencerminkan kegagalan sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam mendampingi perkembangan anak.
Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Ketua Social Research Center (Sorec), Dr Andreas Budi Widyanta, menilai tindakan ekstrem yang dilakukan seorang anak merupakan akumulasi dari berbagai persoalan sosial yang berlangsung dalam waktu lama.
Menurut Andreas, kurangnya perhatian dan kasih sayang, ditambah pengalaman menjadi korban perundungan (bullying), dapat memicu kemarahan yang dipendam hingga akhirnya meledak dalam bentuk tindakan berbahaya.
"Kemudian diguncang dengan bullying oleh dunia sekitarnya, kadangkala oleh teman-temannya. Nah situasi itu tentu membuat anak juga memendam rasa amarah yang tidak semua orang bisa ketahui," ujarnya, Senin (27/7/2026).
Bullying dan medsos
Kasus di Padang terungkap setelah aparat menemukan tiga bom rakitan yang diduga dibuat oleh seorang siswa.
Berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku mengaku terdorong oleh pengalaman menjadi korban perundungan dan terinspirasi dari kasus serupa yang pernah terjadi di SMAN 72 Jakarta.
Polisi juga mengungkap pelaku tergabung dalam komunitas siber bertema true crime berskala global.


