Siswa bawa bom ke sekolah, sosiolog UGM soroti kegagalan sistem pendidikan

Siswa bawa bom ke sekolah, sosiolog UGM soroti kegagalan sistem pendidikan
Foto: Personel Brimob Polda Sumbar berjaga di lokasi ledakan di MAN 3 Kota Padang, Selasa (14/07)
PPA & TPPO
Selasa, 28 Jul 2026  11:12

Kasus seorang siswa yang diduga membawa dan merakit bom rakitan di lingkungan MAN 3 Kota Padang dinilai menjadi alarm serius bagi dunia pendidikan Indonesia.

Peristiwa tersebut tidak hanya dipandang sebagai persoalan kriminal, tetapi juga mencerminkan kegagalan sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam mendampingi perkembangan anak.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Ketua Social Research Center (Sorec), Dr Andreas Budi Widyanta, menilai tindakan ekstrem yang dilakukan seorang anak merupakan akumulasi dari berbagai persoalan sosial yang berlangsung dalam waktu lama.

Menurut Andreas, kurangnya perhatian dan kasih sayang, ditambah pengalaman menjadi korban perundungan (bullying), dapat memicu kemarahan yang dipendam hingga akhirnya meledak dalam bentuk tindakan berbahaya.

"Kemudian diguncang dengan bullying oleh dunia sekitarnya, kadangkala oleh teman-temannya. Nah situasi itu tentu membuat anak juga memendam rasa amarah yang tidak semua orang bisa ketahui," ujarnya, Senin (27/7/2026).

Bullying dan medsos

Kasus di Padang terungkap setelah aparat menemukan tiga bom rakitan yang diduga dibuat oleh seorang siswa.

Berdasarkan hasil penyelidikan, pelaku mengaku terdorong oleh pengalaman menjadi korban perundungan dan terinspirasi dari kasus serupa yang pernah terjadi di SMAN 72 Jakarta.

Polisi juga mengungkap pelaku tergabung dalam komunitas siber bertema true crime berskala global.

Menurut Andreas, perkembangan teknologi dan kemudahan mengakses media sosial membuat anak semakin rentan meniru berbagai konten kekerasan yang beredar di internet.

"Informasi yang serba-tidak sehat untuk tumbuh kembang anak itu membuat anak menjadi sebuah alat yang mengabsorpsi, dan bisa jadi justru menginspirasi anak-anak kita untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh jejak-jejak kekerasan yang ditinggalkan oleh sosial media," katanya.

Ia menjelaskan kemampuan mimesis atau kecenderungan meniru perilaku yang dilihat di media sosial menjadi tantangan besar apabila tidak diimbangi dengan pendidikan karakter yang kuat.

Budaya dialog

Andreas menilai solusi atas persoalan tersebut tidak cukup hanya dengan memperketat pengamanan di lingkungan sekolah.

Menurutnya, akar persoalan harus diselesaikan melalui pembenahan sistem pendidikan, terutama dengan memperkuat budaya dialog agar anak memiliki ruang yang aman untuk menyampaikan masalah yang dihadapinya.

"Kita gali dari akar persoalan gunung es tentang perilaku anak sekolah yang melakukan ini maka kita perlu menukik ke hal yang lebih dalam merefleksikan kembali bagaimana sistem pendidikan kita dan bagaimana memperkuat budaya dialog bersama anak-anak kita," ujarnya.

Ia menambahkan, sistem pendidikan di Indonesia masih terlalu berfokus pada pencapaian akademik dibanding pembentukan karakter, empati, dan kemampuan mengelola emosi.

Di lingkungan keluarga pun, menurut Andreas, anak lebih sering menerima nasihat daripada diajak berdiskusi secara terbuka mengenai persoalan yang mereka alami.

Keberagaman dan perundungan

Andreas juga menyoroti persoalan keberagaman yang dinilai belum sepenuhnya diterima dalam kehidupan masyarakat. Sikap diskriminatif yang tumbuh sejak lingkungan keluarga, menurutnya, dapat menjadi bibit munculnya praktik perundungan di sekolah.

"Saya meyakini keluarga kita tumbuh di dalam ketidaksiapan akan keberagaman. Perundungan bukan persoalan yang sederhana, melainkan karikatur bentuk masyarakat yang tidak siap dengan keberagaman," katanya.

Sebagai solusi, Andreas mendorong penerapan pendekatan cura personalis, yaitu konsep pendidikan yang memperhatikan kebutuhan setiap individu secara menyeluruh.

Ia menegaskan pembenahan sistem pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah, tetapi harus melibatkan keluarga, masyarakat, dan pemerintah agar kasus serupa tidak kembali terjadi.

TAG:
#bullying
#perundungan
#peelindungan anak
#ugm
#padang
Berita Terkait
Guru Besar UGM Resmi Dipecat, 13 Mahasiswi Jadi Korban Kekerasan Seksual
Guru Besar UGM Resmi Dipecat, 13 Mahasiswi Jadi Korban Kekerasan Seksual
Guru Besar UGM Resmi Dipecat, 13 Mahasiswi Jadi Korban Kekerasan Seksual
Guru Besar UGM Resmi Dipecat, 13 Mahasiswi Jadi Korban Kekerasan Seksual
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Sinergi Inovasi Polrestabes Palembang, Kapolda Sumsel Dorong Stabilitas Kamtibmas dan Pemberdayaan Ekonomi
Polisi kantongi identitas pelaku main hakim sendiri di Morowali
Selamatkan 38 Ribu Jiwa, Kapolda Sumsel Pimpin Pemusnahan Belasan Kilogram Sabu di Palembang
KPK tahan Anggota DPRD Jatim Moch Mahrus terkait suap dana hibah pokmas
Bukti Nyata Pelayanan Publik, Korban Kejahatan Terima Kembali Kendaraan dari Kapolda Sumsel
Indeks Berita