Pernah hamili adik tiri dan keluar masuk penjara, pemerkosa yang diseret warga diungkap latar belakangnya
“Iya betul itu,” ujarnya pendek, seperti tak ingin memperpanjang daftar yang sudah cukup kelam.
Setelah dikuburkan subuh dini hari, aparat berjaga mengamankan keluarga.
Ia sendiri mengaku melihat foto kondisi tubuh Ali: “Dicabik-cabik… kemaluannya dipotong.”
Sebuah kalimat yang bahkan diulang pun terasa menohok.
Sumber kepolisian menyebut amuk massa dilatarbelakangi kasus pemerkosaan terbaru yang menyeret nama Ali.
Tanpa menunggu proses formal, warga bertindak. Tindakannya brutal, tak ada ruang bagi negosiasi atau hukum acara.
Di sinilah pertanyaan besar itu muncul, ketika negara tak cukup hadir, bolehkah warga mengambil alih peran penegakan hukum?
Di media sosial, sebagian orang menyebut itu “pembalasan setimpal.” Sebagian lainnya menyebutnya “anarki yang disulut trauma kolektif.”
Namun di kampung itu sendiri, kesaksian Enal dan Camat Akbar menunjukkan hal serupa: ketakutan panjang yang berubah jadi ledakan.

