Greenflation Bukan Isu Recehan, Justru Bukti Gibran Pemimpin Muda Berkualitas

Istilah greenflation yang diungkapkan Gibran Rakabuming Raka saat debat cawapres menjadi perbincangan. Bukan substansi istilah itu yang menjadi fokus perbincangan, melainkan tudingan greenflation adalah pertanyaan atau isu recehan.
Bagi Ketua Harian Pernusa, Andi Hakim, dengan mengangkat isu greenflation justru menunjukkan Gibran sebagai pemimpin dari generasi muda berkualitas yang peduli dengan lingkungan hidup dan memiliki wawasan ke depan.
"Dan itu menjadikan mas Gibran sebagai pasangan yang saling melengkapi dengan Pak Prabowo, menjadi paket komplit," ujar Andi Hakim, Kamis (25/1/2024).
Menurutnya Prabowo mewakili generasi yang lebih senior yang umumnya lebih menyukai kemapanan, sedangkan Gibran mewakili generasi muda yang lebih kekinian dan futuristik (pandangan dan orientasi jauh ke depan).
"Kemapanan sisi positinya penting untuk menjaga stabilitas dari berbagai aspeknya. Sedangkan sisi negatifnya berupa kekolotan, fanatik terhadap paradigma lama dan juga kesombongan. Nah kesombongan ini termasuk kesombongan intelektual yang menuding greenflation sebagai isu receh itu," jelasnya.
Greenflation adalah isu kekinian dan ke depan yang, kata Andi, mungkin belum difahami atau menjadi konsern generasi senior yang sudah nyaman dalam kemapanan.
Padahal menurutnya risiko greenflation muncul ketika dunia berkomitmen untuk meningkatkan bauran energi baru dan terbarukan (EBT). Kebutuhan EBT meningkat, permintaan EBT pun bertambah.
"Greenflation adalah naiknya harga barang dan jasa sebagai akibat dari penerapan upaya transisi hijau. Misalnya, komitmen meningkatkan bauran energi terbarukan, menerapkan praktik pajak dan upaya transisi hijau lainnya," papar Andi Hakim.
Dengan adanya pajak lingkungan, mendorong konsumen untuk melakukan konsumsi dengan cara yang lebih berkelanjutan dan hal tersebut merupakan terobosan nyata dalam transisi ekologis berdasarkan laporan The Council on Business & Society pada 2022.
"Transisi ke kondisi baru yang stabil tidak terjadi secara gratis, akan ada biaya yang harus dibayarkan untuk menggunakan tindakan ramah lingkungan, yang mencerminkan tujuan ganda, yaitu untuk melindungi bumi dan hak untuk menentukan nasib sendiri," ujar Ketua Harian Pernusa itu.
Dia menambahkanen, "Yang menganggap greenflation isu recehan mungkin kurang update dengan referensi-referensi kekinian. Orang-orang hebat dengan referensi dan paradigma di masa lalu ada baiknya terus meng-update dan meng-updgrade dirinya agar tidak salah menilai isu-isu kekinian."
Menurutnya, sudah saatnya anak muda yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk memimpin. Kita tidak boleh meremehkan anak muda saat ini, apalagi ada sebutan anak ingusan dan lain-lain.
"Harusnya yang tua-tua ikut mendorong anak muda menjadi pemimpin dan terus berinovasi, seperti yang dicontohkan Pak Jokowi dan Pak Prabowo," tutupnya. (*)












