Geger Tarif Impor Trump, Airlangga: Sangat Teknis dan Memerlukan Pembahasan Lebih Lanjut

Pemerintah Indonesia menunda memberikan respons terkait kebijakan tarif impor yang baru saja diumumkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Dalam kebijakan yang diumumkan Rabu (2/4/2025) tersebut, AS memberlakukan pajak dasar sebesar 10% untuk semua impor, serta tarif yang lebih tinggi bagi negara-negara yang memiliki surplus perdagangan dengan AS. Indonesia sendiri terkena tarif sebesar 32%.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sedianya akan melaksanakan press conference terkait respons pemerintah terhadap kebijakan tarif Trump. Press conference tersebut rencananya juga akan akan dihadiri para menteri bidang ekonomi.
Perinciannya, Menteri Koordinator (Menko) bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani, dan Menteri Perdagangan Budi Santoso dijadwalkan bakal memberikan tanggapannya pada hari ini.
Di samping itu, Menteri Luar Negeri Sugiono dan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita akan turut serta memberikan responnya pada agenda tersebut.
Namun, agenda yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis (3/4/2025) pukul 11.00 WIB itu terpaksa ditunda karena sangat teknis dan memerlukan pembahasan lebih lanjut.
"Terkait kebijakan tarif AS sangat teknis dengan beragam komoditas, sehingga masih memerlukan pembahasan secara komprehensif di tataran masing-masing kementerian atau lembaga," tulis pernyataan resmi Kemenko Perekonomian.
Berbagai negara juga bereaksi dengan hati-hati terhadap kebijakan tarif impor Donald Trump ini.
Salah satunya respons dari Menteri Perdagangan Inggris Jonathan Reynolds yang menyatakan Inggris tetap menganggap AS sebagai sekutu terdekat. Inggris juga akan mencari kesepakatan untuk mengurangi dampak tarif impor AS ini.
Untuk diketahui, Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan pemberlakuan pengenaan tarif dasar 10% untuk semua produk impor ke Amerika Serikat (AS) dan bea masuk yang lebih tinggi untuk belasan mitra dagang terbesar di negara tersebut.
Pengumuman kebijakan penetapan tarif timbal balik itu dilakukan Presiden Donald Trump di Rose Garden, Gedung Putih pada Rabu sore (2/4/2025) waktu setempat.
Dalam agenda tersebut, Trump memajang sebuah poster yang berisi daftar tarif resiprokal yang diterapkan AS kepada negara-negara mitra dagang.
China mendapat tarif baru 34%, sementara Uni Eropa 20%. Pengenaan tarif resiprokal itu sebagai tanggapan atas bea masuk yang dikenakan pada barang-barang AS.
Adapun, Kamboja menjadi negara yang mendapat tarif tertinggi, yakni 49%. Posisi kedua diduduki Vietnam dengan 46%. Sri Lanka mendapat tarif resiprokal 44%, Banglandesh 37%, Thailand 36%, dan Taiwan 32%. Sementara itu, Indonesia menerima tarif resiprokal sebesar 32%.
Kebijakan tersebut menjadi sorotan lantaran bakal memperdalam perang dagang yang telah dimulai oleh Trump pada saat dirinya kembali menjabat sebagai Presiden AS.












