Akulturasi Budaya Islam dan Kejawen, Dusun Sendangwuni Bonagung Tanon Sragen Gelar Tradisi Ritual "Dekahan Deso" Atau Bersih Desa

SRAGEN - Masyarakat Jawa pada umumnya tidak akan bisa lepas dari budaya dan tradisi leluhur yang sudah mendarah daging di tubuh. Terlepas dari apa keyakinan yang dianut, Islam, Hindu ataupun Budha, keyakinan masyarakat akan keberadaan leluhur sudah diakui. Hal itu merujuk pada keyakinan animisme dan dinamisme yang sudah dianut masyarakat jauh sebelum agama mulai masuk ke pulau Jawa.
Karena kuatnya keyakinan masyarakat dengan adanya leluhur atau penjaga bumi, membuat keyakinan atau agama baru yang hendak masuk tak bisa leluasa disebarluaskan. Bagi masyarakat Jawa, keyakinan yang mereka anut adalah keyakinan yang benar. Saat mereka memberikan sesaji atau penghormatan kepada leluhur tak lain merupakan hubungan timbal balik, dimana leluhur juga telah menjaga mereka dari marabahaya.
Bagi masyarakat Jawa, istilah ritual Dekahan tentunya sudah tak asing lagi. Ritual Dekahan sendiri merupakan wujud kebudayaan yang hingga kini dilestarikan secara turun temurun. Secara prosesi, sebenarnya ritual Dekahan tidak berbeda jauh dengan ritual-ritual Jawa lainnya seperti Suranan, Muludan dan Syawalan.
Sebagai contoh apa yang menjadi tradisi di Desa Sendangwuni RT 15 Kelurahan Bonagung Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Jawa Tengah. Kegiatan ritual syukuran dengan melibatkan warga satu dukuh ini digelar sebagai ungkapan rasa syukur, karena kehidupan kurun setahun sebelumnya diberikan banyak rejeki dan kesehatan dari Sang Pencipta. Salah satunya adalah nikmat panen hasil pertanian selama setahun ini.
Hasil dari akulturasi budaya dan agama itupun terjadi hingga melahirkan tradisi di Desa Sendangwuni yang bisa dinikmati hingga sekarang. Bahkan, beberapa tradisi sengaja dilestarikan dengan cara menggelar ritual adat secara rutin pada tanggal atau bulan-bulan tertentu. Selain merupakan bentuk warisan sejarah, tradisi adat juga dilakukan sebagai wujud syukur.

Menurut Sukimin (70) selaku sesepuh Desa yang mengimami esensi ritual juga menyampaikan, Dekahan Desa dituangkan dengan memanjatkan doa kepada Tuhan agar diberi keselamatan dan kesejahteraan. Dimana, ritual ni merupakan salah satu warisan budaya nenek moyang yang patut dilestarikan.
Ritual Dekahan ini bertempat dilokasi sumur tua akrab disebut Sumur Kawak atau Sendang Wuni, hal tersebut secara umum sudah menjadi kegiatan rutin bagi masyarakat setempat. Menurutnya, ritual ini merupakan salah satu jalan serta digunakan sebagai simbol penghormatan terhadap bumi yang telah memberikan sumber kehidupan kepada manusia.
"Syukuran sedekah bumi atau dekahan desa ini rutin di selenggarakan setiap tahun sekali setelah panen padi. Tempatnya ya di area sendang ini sejak leluhur-leluhur dulu. Soal adanya sumur sejak ada dari dulu, bisa juga dari jaman para wali," ungkap Sukimin, Rabu (2/8/2023).
Menurut cerita yang beredar di Desa Sendangwuni, menyebut nenek moyang dulu menganggap bahwa tanah merupakan pahlawan yang mempunyai jasa besar bagi keberlangsungan kehidupan manusia khususnya para petani desa. Karena jasa yang besar itulah, wajib bagi manusia untuk menggelar ritual Dekahan sebagai bentuk ungkapan terimakasih dan penghargaan kepada tanah atau bumi.
Dengan ritual Dekahan tersebut bisa menjadi simbol paling dominan bagi para petani untuk menunjukkan rasa kasih sayang mereka kepada bumi. Sehingga, tanah yang mereka pijak tidak akan marah atau bahkan memberikan bencana seperti banjir dan tanah longsor.
Oleh masyarakat Desa Sendangwuni, moment ritual Dekahan ini juga sebagai tempat untuk berkumpul dan saling bertukar pikiran satu dengan yang lainnya. Warga desa yang erat dengan sikap gotong royong dan saling membantu bisa menambah solidaritas antar warga sehingga dapat membentuk sebuah keharmonisan.
"Semoga ritual Dekahan ini bisa menjadikan masyarakat hidup berdampingan damai sentosa. Karena secara umum, tujuan di digelarnya ritual di Sendang ini untuk memohon keselamatan dan kebahagiaan. Bagi masyarakat, ritual Dekahan ini dilakukan untuk “menyelameti” atau “menyedekahi” sawah atau ladang yang dimiliki. Karena pada dasarnya, semua rezeki yang bersumber dari Allah SWT. Selain itu, ritual Dekahan juga dipercaya bisa mendatangkan kebaikan bagi tanah yang telah “diselameti” khususnya ditempati," tambahnya.
Menurut kepercayaan di Desa Sendangwuni, melestarikan ritual Dekahan ini ada bukan tanpa tujuan, pasalnya kegiatan ini digelar untuk mengingatkan manusia agar senantiasa mengingat dan tak lupa dengan asal usulnya.
Hal tersebut diungkapkan Juwahir selaku Ketua RT 15 Desa Sendangwuni, Bonagung, dengan dasar karena tak menutup kemungkinan ketika manusia semakin jauh melangkahkan kaki dari asalnya, maka ia akan semakin rentan untuk melupakan tradisi dan budaya yang dibentuk oleh leluhurnya.
Puncak ritual Dekahan itupun biasanya ditutup dengan doa bersama yang tentunya juga dipimpin oleh sesepuh desa dirumah setiap Ketua RT. Namun, jika ditelisik lebih dalam terdapat keunikan dalam doa yang dilantunkan dalam ritual Dekahan. Pasalnya, dalam lantunan doa tersebut ada kolaborasai antara lantunan kalimat-kalimat Jawa yang dipadukan dengan doa-doa bernuansa Islami.
"Jika dilihat dari segi etimologi, ritual Dekahan ini tradisi yang tidak berbeda jauh dengan Kenduri. Dimana, dengan berbagai jenis makanan sebagai simbolis. Selain itu, ritual Dekahan ini dimulai pada pagi hari pukul 06.00 WIB lokasi di Sendang atau sumur kawak, sorenya ditempat saya selaku Ketua RT dengan pertanda bunyi dari kentongan untuk memulai kumpul. Kentongan ditabuh dengan kode doro muluk atau berkepanjangan," Jelasnya.
Masih menurut Juwahir, selain tumpeng dan ayam ingkung sebagai makanan utama, sebagai pelengkap sarana ritual Dekahan juga turut disediakan pisang, bunga ritual dan sebagainya. Masyarakat percaya, bahwa bawaan yang disajikan merupakan landasan untuk memanjatkan doa.

Salah satu tokoh warga sekaligus Ketua Karangtaruna Desa, Suwahyo juga mengatakan ritual dekahan atau sedekah bumi ini sudah berlangsung sejak turun temurun digelar satu tahun sekali, setelah panen padi. Seperti tahun sebelumnya, selamatan ini selalu digelar bertepatan musim peralihan, yakni dari musim penghujan ke musim kemarau dan lokasinya di Sendang Kawak atau Sumur Sendangwuni yang keramat itu.
“Iya karena, tanah pertanian di desa kami merupakan sebagian tanah tadah hujan. Ritual dari dulu sederhana mas, tapi bagi kami dengan tradisi ini kami menghormati para leluhur. Kami berharap tradisi unik ini bisa terus digelar rutin setiap tahun dan sekaligus sebagai upaya melestarikan budaya ungkapan rasa syukur setelah panen padi,” ujarnya.
Acara berlangsung diakhiri dengan saling berbagi makanan. Lanjut Suwahyo, hal terpenting tetap dalam kebersamaan, bersyukur dan tidak mengurangi nilai dari acara Dekahan sendiri.
Disinggung soal sejarah turun temurun terkait Sumur Tua Sendangwuni, Suwahyo mengungkap adanya juru kunci yang sudah tiada dan tak ada penerusnya. Namun sumur yang dikeramatkan itu sejak dulu dijadikan ritual khusus bagi warga yang mau punya hajat.
"Tradisi di Desa sini unik, warga yang punya hajat khususnya temanten harus diarak keliling di sendang atau sumur kawak sini dulu. Jika dilanggar membawa dampak buruk tersendiri, sumur sini sangat gawat. Dulu ada spiritual dari Jawa Timur mau mencoba mengambil pusaka ditempat ini, tapi baru ritual semedi sudah dilempar jauh orangnya. Saya melihatnya sendiri." Pungkasnya. (Awi/Tim)











