Dikunjungi Gibran, ini permintaan kepala desa korban banjir Aceh

Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, memperkenalkan Reje atau Kepala Desa Kute Reje, Hamdan, kepada Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, Kamis (6/8/2026).
Perkenalan itu dilakukan saat Gibran berkunjung ke Kampung Lumut, Kabupaten Aceh Tengah, untuk melihat perkembangan revitalisasi jalan yang dilakukan Panitia Pembuat Komitmen (PPK) 3 Balai Pembangunan Jalan Nasional (BPJN) Aceh yang bersumber dari anggaran Danantara.
Muchsin memperkenalkan kepala desa yang lebih dari separuh warganya kehilangan tempat tinggal akibat bencana banjir Sumatera akhir November lalu dan kini menempati hunian sementara (huntara) di kawasan Pangkat, Kampung Delung Sekinel, Kecamatan Linge, bersama sejumlah warga dari desa lain, seperti Kampung Jamat dan Reje Payung.
"Ini kepala desa yang desanya hilang, Pak, mereka direlokasi," kata Muchsin Hasan kepada Gibran.
Setelah diperkenalkan, Hamdan menyalami Gibran, Hamdan menyampaikan permintaan percepatan revitalisasi lahan sawah dan hunian tetap (huntap).
Seusai menemui Gibran, Hamdan mengaku menyampaikan permintaan kepada Wapres karena kondisi yang kian memprihatinkan di desa yang ia pimpin.
"Tadi saya sampaikan kepada Pak Wapres, untuk segera dilakukan perbaikan lahan sawah karena bencana banjir dan longsor telah merusak 100 persen dengan kategori rusak sedang dan berat," ucap Hamdan seusai pertemuannya dengan Gibran Rakabuming Raka.
Mengenai huntap, Hamdan mengetahui sedang dalam proses.
Hanya saja, dia meminta agar dapat disegerakan supaya warga bisa memiliki rumah lagi setelah lebih dari delapan bulan bencana.
"Ada dua dusun yang rusak berat, untuk Dusun Pertik rusak total. Jadi, warganya akan direlokasi, infonya huntap dipusatkan di kawasan Pangkat yang menjadi area huntara hari ini,” ucapnya.
Sementara Dusun Blang Pertik di desa itu, meskipun rumah warga masih ada, tidak berani lagi dihuni warga sehingga tetap direlokasi.
"Harapan yang paling utama itu adalah rehabilitasi sawah karena warga berpotensi kekurangan beras di masa depan," ujar Hamdan. Ia menjelaskan, stok beras bantuan warga Kute Reje pascabencana kini sudah minim dan butuh perhatian lebih lanjut.
"Biasanya, kami ada simpanan beras hasil sawah yang dilakukan dua tahun empat kali bercocok tanam, tetapi pascabencana, kami tidak lagi bisa bersawah, kami krisis beras," ujar dia.












