Punya profile mentereng, dokter mahasiswi PPDS UGM ini terseret masalah komentar sadis ke pasien BPJS

Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) menonaktifkan sementara dr Elda Putri Rahardini, PhD, seorang mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) selama tiga bulan.
Penonaktifan tersebut berkaitan dengan polemik dugaan komentar tidak berempati terhadap pasien BPJS bernama Yurizal di media sosial Threads.
Penonaktifan dilakukan untuk memberikan ruang bagi proses pemeriksaan dan investigasi secara menyeluruh terhadap dugaan tindakan yang dinilai tidak mencerminkan empati kepada pasien.
Dekan FK-KMK UGM Prof dr Yodi Mahendradhata mengatakan pemeriksaan dilakukan secara komprehensif dan mendalam.
Elda Putri Rahardini turut memberikan komentar yang nirempati terhadap Yurizal hingga menjadi sorotan publik.
“PPnya kayak orang have tapi aslinya haven’t kah? Haven’t some brain cells,” tulis Elda melalui akun @erudarahaadini.
Lantas, siapakah Elda Putri Rahardini? Berikut profil singkat dari peserta PPDS tersebut.
Profil dr Elda Putri Rahardini
Terlepas dari polemik yang berkembang di media sosial, dr Elda mempunyai rekam jejak akademik yang cukup mentereng.
Berdasarkan profil profesional yang tersedia, Elda Putri Rahardini merupakan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.
Ia menempuh pendidikan Doctor of Medicine (M.D.) di UGM pada 2008 hingga 2014 dan tercatat menyelesaikan pendidikan tersebut dengan predikat cumlaude.
Selama masa pendidikan, Elda juga tercatat memiliki pengalaman penelitian. Salah satu karya akademiknya membahas hubungan tahapan hipertensi dengan kadar vascular endothelial growth factor (VEGF) pada pasien dewasa di RSUP Dr. Sardjito. Penelitian tersebut tercatat sebagai karya ilmiah tingkat sarjana.
Setelah menyelesaikan pendidikan kedokteran, perjalanan akademik Elda berlanjut ke luar negeri.
Melanjutkan Ph.D. di Kobe University
Elda kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Kobe University, Jepang. Berdasarkan profil profesionalnya, ia menempuh Doctor of Philosophy (Ph.D.) dengan fokus pada Cardiovascular Science atau ilmu kardiovaskular pada 2015 hingga 2019.
Sementara itu, profil pribadinya menyebut bahwa pendidikan doktoral tersebut berkaitan dengan bidang ilmu kedokteran dan ditempuh setelah mendapatkan beasiswa Monbukagakusho atau MEXT dari pemerintah Jepang.
Kiprahnya dalam bidang penelitian juga terlihat dari sejumlah publikasi ilmiah yang mencantumkan namanya sebagai salah satu peneliti.
Salah satunya penelitian mengenai peran FAM13A dalam proses yang berkaitan dengan hipertensi pulmonal dan perubahan seluler. Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal PLOS ONE pada 2020.
Pernah mendapat beasiswa MEXT dan LPDP
Selain memiliki pengalaman akademik di Jepang, Elda juga diketahui pernah menjadi penerima beasiswa Monbukagakusho/MEXT. Profil profesionalnya mencatat status tersebut pada periode pendidikannya di Jepang.
Setelah menyelesaikan pendidikan doktoral, Elda kembali berkegiatan di Indonesia. Profil pribadinya menyebut dirinya sebagai penerima beasiswa LPDP untuk pendidikan residensi Ilmu Penyakit Dalam.
Profil profesional Elda juga mencantumkan status sebagai LPDP awardee serta pengalaman sebagai dokter umum dan peneliti.
Ia pernah bekerja sebagai general practitioner di Klinik Rumah Sehat Universitas Gadjah Mada serta terlibat dalam sejumlah kegiatan penelitian klinis di RSUP Dr. Sardjito.
Raih penghargaan di bidang ilmiah
Selain perjalanan pendidikan yang panjang, Elda juga tercatat memperoleh sejumlah penghargaan dalam bidang akademik dan penelitian.
Salah satunya adalah penghargaan Best Systematic Review dalam The 20th Congress of Asian College of Psychosomatic Medicine (ACPM) yang berlangsung di Yogyakarta pada 2025.
Ia juga tercatat pernah memperoleh penghargaan presentasi dalam forum ilmiah respirasi tingkat Asia Pasifik.
Dengan latar belakang pendidikan dan penelitian tersebut, nama Elda sebelumnya lebih dikenal dalam lingkup akademik dan kedokteran.
Namun, perhatian publik terhadap dirinya berubah setelah komentar di media sosial terkait Yurizal menjadi viral.
Minta maaf
Setelah mendapat kritik luas, Elda menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Yurizal dan masyarakat.
Ia mengakui bahwa komentar yang dibuatnya tidak pantas dan tidak mencerminkan nilai empati yang seharusnya dimiliki seorang tenaga kesehatan.
“Saya Elda Putri Rahardini. Dengan penuh kesadaran, kerendahan hati, dan penyesalan yang mendalam ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar almarhum Yurizal, teman-teman, kerabat, serta seluruh masyarakat luas.Saya mengakui sepenuhnya bahwa komentar yang saya tuliskan melalui akun media sosial saya beberapa waktu lalu sangatlah tidak pantas, tidak etis, dan menunjukkan ketiadaan empati. Saya menyadari bahwa tulisan saya telah melukai hati banyak pihak, terutama di tengah situasi sulit yang saat itu sedang dihadapi almarhum saat mencari penanganan medis,” tulis Elda Putri Rahardini pada akun media sosialnya, @erudarahaardini.










