Keracunan MBG di Cirebon, ratusan korban masih dirawat

Sebanyak 217 siswa dan guru di Kota Cirebon dilaporkan mengalami keluhan kesehatan atau keracunan setelah mengonsumsi makan bergizi gratis (MBG).
Hingga Rabu (21/10/2026), sebanyak 159 orang di antaranya masih menjalani rawat inap di sejumlah rumah sakit di Kota Cirebon.
Data penanganan pasien menunjukkan, para siswa dan guru yang mengalami keluhan kesehatan telah mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Sementara itu, pemantauan terhadap perkembangan kasus masih terus dilakukan.
Kasus tersebut berkaitan dengan penyaluran MBG di wilayah Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon.
Penyedia program MBG yang tercatat dalam laporan tersebut adalah Yayasan Tri Bakti Pertiwi, dengan Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Andi Rahmat. Adapun pemiliknya disebut bernama Asep/Rizki.
Berdasarkan data pasien yang dihimpun dari sejumlah rumah sakit, RS Siloam menangani 75 orang, dengan 38 orang menjalani rawat inap dan satu orang berada di ruang perawatan intensif (MICU).
Kemudian, RS Ciremai menangani 62 orang yang seluruhnya masih menjalani rawat inap. RS Cahaya Bunda menangani tujuh orang, sedangkan RS Pelabuhan menangani satu orang.
Sementara itu, RS Gunung Jati menangani 64 orang, dengan 32 orang di antaranya menjalani rawat inap.
RS Sumber Kasih menangani satu orang untuk rawat jalan, RS Medimas menangani 15 orang, dan RS PAD menangani empat orang.
Dengan demikian, total pasien yang tercatat dalam laporan tersebut mencapai 217 orang. Dari jumlah itu, 159 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Di tengah penanganan medis, situasi di sejumlah rumah sakit dilaporkan mulai kondusif. Kerumunan warga yang sebelumnya berada di lingkungan rumah sakit juga berangsur berkurang.
Unsur Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) masih melakukan pemantauan untuk memastikan situasi tetap terkendali.
Pemantauan terhadap satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) juga diperlukan guna mengantisipasi persoalan serupa serta mencegah munculnya informasi provokatif di tengah masyarakat.
Hingga berita ini disusun, perkembangan kondisi pasien dan penanganan kasus tersebut masih terus dipantau.
Penyebab pasti keluhan kesehatan para siswa dan guru serta hasil pemeriksaan terhadap makanan MBG belum dijelaskan dalam data yang tersedia.












