Presiden: Jangan Sampai Pelajar-Pelajar NU Terjebak Jadi Ahli Hoax
“Coba lihat di gambar. Ini kampanye tahun 1955. Ketua PKI itu namanya DN Aidit saat itu pidato, lha kok saya ada di bawahnya, di bawah panggung dia. Banyak gambarnya bukan satu ini. Ini yang sering saya berikan contoh saja. Coba, saya lihat-lihat di HP saya kok ya persis wajah saya,” ungkap Presiden seraya menambahkan, Aidit berpidato itu tahun 1955, dirinya lahir saja belum tapi sudah dipasang gambar-gambar seperti itu.
Ya itulah, sebut Presiden kejamnya media sosial kalau dipakai untuk kepentingan-kepentingan politik sesaat, kepentingan politik yang tidak mendidik, kepentingan politik yang tidak mendewasakan, kepentingan politik yang tidak mencerdaskan rakyat dan masyarakat.

Sedang Proses Hijrah
Sebelumnya dalam awal sambutannya Presiden Jokowi mengatakan, saat ini memang kita sedang proses, sedang hijrah. Hijrah dari pesimisme-pesimisme menuju ke yang optimisme- optimisme. Hijrah dari individualisme- individualisme menuju ke kerjasama, berkolaborasi.
Hijrah dari kemarahan- kemarahan, yang sering marah-marah menuju ke yang sabar-sabar kepada kesabaran-kesabaran. Hijrah, kita semuanya ingin hjuga dari ketimpangan-ketimpangan menuju ke sebuah keadilan sosial.
Ia menjelaskan, untuk mempercepat hijrah bangsa kita, untuk kelancaran hijrah bangsa Indonesia, dibutuhkan manusia-manusia yang unggul, manusia-manusia yang cerdas, manusia-manusia Indonesia yang inovatif, manusia Indonesia yang akhlakul karimah, manusia Indonesia yang cinta akan tanah airnya.
Tampak hadir dalam kesempatan itu antara lain Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi, Rois Syuriah PBNU KH. Mustofa Aqil Siroj, Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini, Ketua Umum IPNU Asep Irfan Mujahid, Ketua Umum IPPNU Puti Hasni.