Akulturasi Budaya Islam dan Kejawen, Dusun Sendangwuni Bonagung Tanon Sragen Gelar Tradisi Ritual "Dekahan Deso" Atau Bersih Desa

 
Rabu, 02 Agu 2023  18:52

Menurut cerita yang beredar di Desa Sendangwuni, menyebut nenek moyang dulu menganggap bahwa tanah merupakan pahlawan yang mempunyai jasa besar bagi keberlangsungan kehidupan manusia khususnya para petani desa. Karena jasa yang besar itulah, wajib bagi manusia untuk menggelar ritual Dekahan sebagai bentuk ungkapan terimakasih dan penghargaan kepada tanah atau bumi.

Dengan ritual Dekahan tersebut bisa menjadi simbol paling dominan bagi para petani untuk menunjukkan rasa kasih sayang mereka kepada bumi. Sehingga, tanah yang mereka pijak tidak akan marah atau bahkan memberikan bencana seperti banjir dan tanah longsor.

Oleh masyarakat Desa Sendangwuni, moment ritual Dekahan ini juga sebagai tempat untuk berkumpul dan saling bertukar pikiran satu dengan yang lainnya. Warga desa yang erat dengan sikap gotong royong dan saling membantu bisa menambah solidaritas antar warga sehingga dapat membentuk sebuah keharmonisan.

"Semoga ritual Dekahan ini bisa menjadikan masyarakat hidup berdampingan damai sentosa. Karena secara umum, tujuan di digelarnya ritual di Sendang ini untuk memohon keselamatan dan kebahagiaan. Bagi masyarakat, ritual Dekahan ini dilakukan untuk “menyelameti” atau “menyedekahi” sawah atau ladang yang dimiliki. Karena pada dasarnya, semua rezeki yang bersumber dari Allah SWT. Selain itu, ritual Dekahan juga dipercaya bisa mendatangkan kebaikan bagi tanah yang telah “diselameti” khususnya ditempati," tambahnya.

Menurut kepercayaan di Desa Sendangwuni, melestarikan ritual Dekahan ini ada bukan tanpa tujuan, pasalnya kegiatan ini digelar untuk mengingatkan manusia agar senantiasa mengingat dan tak lupa dengan asal usulnya.

Hal tersebut diungkapkan Juwahir selaku Ketua RT 15 Desa Sendangwuni, Bonagung, dengan dasar karena tak menutup kemungkinan ketika manusia semakin jauh melangkahkan kaki dari asalnya, maka ia akan semakin rentan untuk melupakan tradisi dan budaya yang dibentuk oleh leluhurnya.

Puncak ritual Dekahan itupun biasanya ditutup dengan doa bersama yang tentunya juga dipimpin oleh sesepuh desa dirumah setiap Ketua RT. Namun, jika ditelisik lebih dalam terdapat keunikan dalam doa yang dilantunkan dalam ritual Dekahan. Pasalnya, dalam lantunan doa tersebut ada kolaborasai antara lantunan kalimat-kalimat Jawa yang dipadukan dengan doa-doa bernuansa Islami.

"Jika dilihat dari segi etimologi, ritual Dekahan ini tradisi yang tidak berbeda jauh dengan Kenduri. Dimana, dengan berbagai jenis makanan sebagai simbolis. Selain itu, ritual Dekahan ini dimulai pada pagi hari pukul 06.00 WIB lokasi di Sendang atau sumur kawak, sorenya ditempat saya selaku Ketua RT dengan pertanda bunyi dari kentongan untuk memulai kumpul. Kentongan ditabuh dengan kode doro muluk atau berkepanjangan," Jelasnya.

Masih menurut Juwahir, selain tumpeng dan ayam ingkung sebagai makanan utama, sebagai pelengkap sarana ritual Dekahan juga turut disediakan pisang, bunga ritual dan sebagainya. Masyarakat percaya, bahwa bawaan yang disajikan merupakan landasan untuk memanjatkan doa.

Berita Terkait
Selengkapnya