Ungkapan Rasa Syukur dan Mendoakan Para Leluhur, Warga Desa Brojol Miri Sragen Gelar Acara Tradisi Sadranan

Ungkapan Rasa Syukur dan Mendoakan Para Leluhur, Warga Desa Brojol Miri Sragen Gelar Acara Tradisi Sadranan
 
JATENG-DIY
Selasa, 29 Mar 2022  19:57

Masih menurut pria muda yang akrab disapa Awi ini, bahwa Nyadran merupakan salah satu tradisi dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Kegiatan yang biasa dilakukan saat Nyadran atau Ru wahan. Dimana para warga masyarakat Desa Brojol ini menyelenggarakan kenduri, dengan pembacaan ayat Al-Quran, zikir, tahlil, dan doa, kemudian ditutup dengan makan bersama.

"Kebanyakan warga melakukan besik, yaitu pembersihan makam leluhur dari kotoran dan rerumputan. Lalu melakukan upacara ziarah kubur, dengan berdoa kepada roh yang telah meninggal di area makam," tandasnya.

Suasana Nyadran di Desa Brojol ini biasanya dilaksanakan pada setiap bulan Rajab atau saat datangnya bulan Sya’ban. Dalam ziarah kubur, biasanya peziarah membawa bunga, terutama bunga telasih. Bunga telasih digunakan sebagai lambang adanya hubungan yang akrab antara peziarah dengan arwah yang diziarahi.

"Para masyarakat yang mengikuti Nyadran biasnya berdoa untuk kakek-nenek, bapak-ibu, serta saudara-saudari mereka yang telah meninggal. Seusai berdoa, masyarakat menggelar kenduri atau makan bersama di sepanjang jalan yang telah digelari tikar dan daun pisang. Tiap keluarga yang mengikuti kenduri harus membawa makanan sendiri. Makanan yang dibawa harus berupa makanan tradisional, seperti ayam ingkung, sambal goreng ati, urap sayur dengan lauk rempah, prekedel, tempe dan tahu bacem, dan lain sebagainya." imbuhnya.

Awi juga menceritakan, dari sejarah pada dasarnya Nyadran berasal dari tradisi masa Hindu-Budha. Sejak abad ke-15 para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima. Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agama Islam dinilai musrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan. (Tim)

<<
1
2
3
Tampilkan Semua
TAG:
#tradisi budaya
#sragen
Berita Terkait
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Indeks Berita