Tradisi Kirab Malam 1 Suro di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat
Kebo bule yang sakral itu diberikan sebagai hadiah istimewa oleh Bupati Ponorogo, yakni Kyai Hasan Besari Tegalsari, kepada Pakubuwono II bersama dengan pusaka tombak yang tak kalah sakralnya, yaitu Kyai Slamet.
Kehadiran Kebo bule ini dipercaya membawa anugerah dan keselamatan yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa, sehingga selalu dinantikan dengan penuh harap oleh masyarakat.
Pada saat kirab malam Satu Suro, ribuan orang memadati sepanjang rute kirab. Biasanya, kirab dimulai pada pukul 23.00 WIB.
Rute kirab umumnya dimulai dari Keraton Solo, menuju Jalan Pakoe Boewono – Bundaran Gladag, lalu Jalan Jenderal Sudirman.
Selanjutnya, kirab memutar di sekitar Benteng Vastenburg ke arah timur melalui Jalan Mayor Kusmanto, kemudian berbelok ke arah selatan melintasi Jalan Kapten Mulyadi, dan melanjutkan perjalanan ke arah barat memasuki Jalan Veteran.
Kirab berlanjut ke arah utara melintasi Jalan Yos Sudarso, kemudian berbelok ke arah timur melalui Jalan Slamet Riyadi, dan di Bundaran Gladag berbelok kanan (ke arah selatan) untuk kembali masuk ke dalam keraton.
Menariknya, banyak warga yang menantikan kehadiran kebo bule. Bahkan, sebagian warga berusaha untuk menyentuh, mengambil air jamasan, dan bahkan mengambil kotoran kebo bule yang jatuh selama kirab berlangsung.
Semua peserta kirab malam Satu Suro mengenakan pakaian berwarna hitam, seperti yang dikutip dari Pemerintah Kota Surakarta. Peserta pria mengenakan busana adat Jawa berwarna hitam atau busana Jawi jangkep.
Sementara itu, peserta wanita mengenakan kebaya berwarna hitam. Barisan kebo bule beserta pawangnya berada di barisan paling depan. Kemudian, diikuti oleh barisan abdi dalem, putra-putri raja, dan kerabat Keraton Solo yang membawa sepuluh pusaka keraton.


