Rupiah Diprediksi Melemah Hingga Level Rp15.500 Per Dolar AS
Bank Indonesia dan pemerintah telah gigih dalam upaya mereka untuk melawan gejolak tersebut, di antaranya dengan melakukan lima kali penaikan suku bunga sejak Mei, membatasi impor, dan intervensi aktif dalam pasar obligasi dan mata uang Indonesia.
Upaya-upaya ini datang bukan tanpa akibat. Cadangan devisa turun ke level terendah dalam 22 bulan yakni US$114,8 miliar pada September karena BI menguras dana untuk membayar utang luar negeri dan menstabilkan rupiah.
Terlepas dari upaya BI, nasib rupiah mungkin masih terpengaruh oleh langkah Federal Reserve AS, yang tetap berkomitmen untuk menaikkan biaya pinjaman.
“Inilah mengapa kami memperkirakan tren pelemahan rupiah akan berlanjut, dengan periode yang relatif tenang dan stabilitas akibat kembalinya minat untuk aset berisiko silih berganti dengan pelemahan menyusul kuatnya data atau komentar bernada hawkish dari AS,” kata Susan Joho, ekonom Julius Baer.
Julius Baer Group adalah kelompok perbankan swasta asal Swiss. Memiliki lokasi di lebih dari 20 negara. Swiss dan Asia adalah dua pasar rumah kelompok, dengan kantor pusat yang terletak di kota terbesar Zurich, Swiss. Julius Bär mempekerjakan staf lebih dari 5.300 di seluruh dunia.
Kelompok ini mengelola aset untuk klien swasta dari seluruh dunia. Jasa perusahaan terutama terdiri dari manajemen kekayaan dan konsultasi investasi. Bank menyediakan produk melalui arsitektur platform terbuka serta sekuritas dan perdagangan valuta asing. Saham dari Julius Baer Group terdaftar di Bursa efek Swiss dan merupakan bagian dari Swiss Market Index (SMI) dari 20 terbesar dan paling likuid saham Swiss.


