Rumah Sakit Itu Bernama PLUT
Beranjak menuju Barat, posisi kami tepat berada dalam jarak lima kilometer dari lokasi PLUT dan perjalanan ini, meski bisa dibilang agak kesiangan, sama sekali tak mengubah rute awal. Kami melampaui jalanan yang berlapis batu splite dan cor sambil berupaya tak banyak bicara dan tiba di lokasi tujuan tepat pukul sebelas. Beberapa personil konsultan PLUT menyambut kami di teras gedung dan Edi, salah satu staf, segera memandu untuk melalui lokasi di sebelah sebab selain belum memiliki gorong-gorong, halaman gedung dua lantai yang beraksen minimalis ini juga nyaris menyerupai belukar.
“Slip sedikit, bisa digigit ular,” seloroh saya dan kami semua tertawa.
Ketika Jhon dan Untung mulai memasuki PLUT, ditemani Edi, saya memilih melihat-lihat bagian luar terutama mengamati selajur plafon yang mulai terkelupas dan menjuntai di bagian belakang. Edi mengatakan keadaan itu sebaiknya segera diperbaiki dan saya cukup bersepakat bahkan sebelum ia mengatakannya.
“Khawatir menimpa anak-anak,” kata dia dari arah belakang.
“Ya,” jawab saya sambil berbalik ke pintu utama lalu bergabung dengan Untung dan Jhon.
“Siapapun pasti tak akan menduga gedung ini ada penguninya,” ucap Untung saat saya tiba. Dia sedang melakukan pengecekan terhadap salah satu ruangan bagian bawah lalu membandingkannya dengan keberadaan semak-semak yang memenuhi halaman. Makin ke dalam, kami juga kian merasakan keseriusan pemerintah pusat membangun gedung ini meski sekali lagi, dengan kondisi nyaris tak terihat tanda-tanda berjalannya sebuah pelayanan terpadu.
Selepas memeriksa beberapa ruangan di lantai atas, kami kemudian di bawa ke sebuah raung rapat bagian bawah dengan meja dan kursi yang sudah tersusun. Untung mengatakan ruang ini terbilang cukup luas meski setelah itu segera terdiam saat mengetahui kalau kunci pintu keluar di bagian samping kami, ternyata sudah hilang.
Mendesah, Jhon memejamkan mata.
Bermula ketika Astrid, salah satu konsultan, menyebutkan bahwa fungsi PLUT lebih menyerupai sebuah rumah sakit bagi pelaku UMKM, Jhon kemudian menanyakan jumlah pelaku Usaha Mikro dan Kecil dengan merujuk pada data.


