Peringati Masa Bulan Ruwahan Menyambut Ramadhan, Desa Brojol Miri Sragen Giat Kerja Bakti Bersih Makam. Ini Harapan Warga Masyarakat
Diketahui, Desa Brojol adalah sebuah pemukiman desa yang letak lokasinya diujung paling barat diwilayah Kabupaten Sragen dekat perbatasan Kabupaten Boyolali. Areanya juga tak jauh dari wisata religi Gunung Kemukus dan Kota kedua Sragen tepatnya di Kecamatan Gemolong. Penduduk mayoritas petani, tetapi banyak pula yang menyandang kepegawaian sampai pengusaha. Khususnya Desa Brojol juga wilayah Miri sendiri dari menilik jejak sejarah, juga telah banyak mencetak banyak tokoh-tokoh ternama yang mempunyai berbagai kesuksesan sampai kursi jabatan baik di Sragen sampai luar Sragen.

(Kepala Biro eks-Soloraya Media Aliansi Indonesia-KPK, Eko Awi saat bertandang bersama Ketua FKKD atau Ketua Paguyuban Kepala Desa seluruh Kabupaten Sragen, Siswanto. dok.)
Fakta ini juga diungkapkan oleh tokoh muda yang menjadi Aktifis Media dan Jurnalis asal Desa Brojol, Eko Awi (40). Pria yang pernah dikukuhkan sebagai Ketua DPC Badan Penelitian Aset Negara Aliansi Indonesia, Cabang Kabupaten Sragen, dan sekarang menjadi Kepala Biro (Kabiro) eks-Soloraya Media Nasional Aliansi Indonesia-KPK ini juga membeberkan, bahwasanya acara bersih makam Desa ini adalah merupakan bentuk perhatian, sekaligus bukti bahwa mereka tidak akan pernah lupa pada orang tua dan para leluhurnya.
Menurutnya, Ruwahan adalah salah satu perbuatan mulia, karena warga masyarakat mendoakan atau mengirim doa kepada Sang Kholik untuk orang yang sudah meninggal dan melakukan sedekah dengan memberi makan atau berbagi kepada sesama.
"Mungkin terkikisnya roda jaman, sehingga tradisi seperti ini banyak yang meninggalkan dan tidak diketahui para generasi penerus. Wong jowo sudah banyak hilang jawanya. Terkadang ada juga orang baru belajar kulitnya saja, nilai budaya dan tradisi yang adiluhung itu dianggap syirik juga bid'ah. Sangat disayangkan," ujar pria yang akrab disapa Awi ini.
Tradisi ruwahan, lanjut Awi, sebuah kearifan lokal yang bagi warga masyarakat Desa Brojol yang memiliki makna kultural-religius yang penting. Setelah berabad-abad lamanya tradisi ini berlangsung, pola kearifan ini telah menunjukkan substansi ajaran Islam dalam membangun toleransi dan humanisme. Prinsipnya adalah melestarikan tradisi lama yang baik pula.
Sementara tradisi ini telah dilakukan selama bertahun-tahun yang menggabungkan antara kepercayaan adat dan ajaran agama Islam disertai tata cara yang unik di tiap daerah, namun sebagian besar memiliki konsep yang sama, yakni untuk mendoakan para leluhur mereka dan berbagi sedekah dengan orang-orang sekitar. Dalam budaya Jawa, mendoakan orang tua, kakek, nenek, dan para leluhur merupakan bentuk penghormatan.
"Sengaja tadi saya bersama anggota menyamar ikut kegiatan kerja bakti. Jujur anggota kontributor Wartawan atau Media Pribadi saya di Kecamatan Miri ada 4 orang, informan terpantau selalu. Lalu saya pribari sangat apresiasi terkait kegiatan yang melestarikan tradisi leluhur ini. Dari hasil wawancara beberapa sumber warga ini ternyata juga mengusung berbagai harapan agar adanya sentuhan pihak pemangku Desa atau Pemerintahan. Dari berbagai ungkapan dan keluhan yang disampaikan, jelas bentuk keranah perhatian dan ketransparanan publik demi kemajuan segala aspek yang menurut mereka di Desa ini perlu banyak pembenahan. Tradisi inipun sekaligus bukti bahwa mereka tidak akan pernah lupa kiprah orang tua dan para leluhurnya, maka dari hal itu mereka berharap bagaimana bentuk pentingnya sebuah fasilitas umum itu dapat tertata dengan baik." imbuhnya. (Tim)

