Panen Raya Serentak: Produksi Beras Naik 52 Persen, Jatim Tertinggi
Daerah itu tercatat menyumbang hampir 91,42 persen produksi nasional bulan ini.
Dengan luas panen 1,43 juta hektare dan produksi 7,89 juta ton GKG, wilayah ini menjadi tulang punggung produksi nasional. Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar, disusul Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di luar Pulau Jawa, kontribusi tertinggi berasal dari Sulsel, Lampung, dan NTB.
Meski cukup berhasil, Presiden menegaskan bahwa pemerintah tidak akan berhenti pada capaian ini. Program strategis seperti cetak sawah, distribusi pupuk, teknologi pertanian, dan koperasi desa akan terus diperluas untuk mendorong kemandirian pangan.
"Saya ingin jadi Presiden yang berhasil menjaga harga pangan," ungkapnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang hadir mendampingi Presiden menyampaikan bahwa keberhasilan ini adalah hasil dari kebijakan yang tepat. Dia mencontohkan di sektor pupuk, sebelumnya distribusi memerlukan tanda tangan dari 12 menteri, 38 gubernur, dan 500 wali kota/bupati.
Namun kini, berkat Instruksi Presiden yang ditandatangani, pupuk dapat langsung disalurkan dari pabrik ke kelompok tani (Gapoktan). "Kemudian program pompanisasi telah meningkatkan produksi padi di Pulau Jawa sebesar 2,8 juta ton di saat krisis El Nino," jelasnya.
Sementara itu, dalam video conference bersama Prabowo, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa yang menghadiri panen raya padi di Kabupaten Ngawi siap melanjutkan capaiannya. Selama lima tahun terakhir produksi beras di Jawa Timur menempati peringkat pertama. "Kami siap meningkatkan," kata Khofifah.
Dalam kesempatan itu, dia juga memamerkan capaian Kabupaten Ngawi sebagai lumbung pangan di Jatim. Di Ngawi, musim panen bisa berlangsung tujuh kali dalam dua tahun. Dia memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi yang dilakukan para petani di Ngawi.


