Meninggal di Usia 47 Tahun, Ini Profil Habib Hasan bin Jafar Assegaf
Setelah menuntut ilmu di berbagai tempat, termasuk di kota Malang, Habib Hasan bin Ja'far Assegaf memilih untuk belajar bersama para alim ulama di Jakarta. Di sana, ia menghabiskan waktu bersama para kiyai dan habib untuk mendalami ajaran agama.
Selama satu tahun penuh, dia hampir tidak pernah meninggalkan rumah kecuali untuk berziarah ke makam kakeknya, Al-Habib Abdullah bin Mukhsin Al-Atthas. Sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam kamar untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah Swt, serta mengamalkan ilmu yang telah diterima dari para guru terdahulu. Pada akhirnya, beliau mendapat petunjuk untuk menyebarkan ilmu Allah Swt kepada umat Nabi Muhammad Saw.
Pada 1997, Habib Hasan bin Ja'far Assegaf memulai kegiatan dakwahnya untuk pertama kalinya di daerah Sukabumi, Jawa Barat. Di sana, dengan izin Allah Swt, Habib Hasan berhasil mendapatkan jama'ah sebanyak lima ratus orang. Namun, ia kemudian kembali ke Bogor karena Umi dari Habib Hasan mengalami sakit yang serius.
Pada 1998, Habib Hasan melanjutkan dakwahnya, kali ini di daerah yang jauh, yakni Timor Timur (yang kini menjadi negara tersendiri terpisah dari Indonesia), terutama di daerah Palu. Dalam kegiatan dakwah ini, Habib Hasan didampingi oleh Al Habib Abubakar bin Hasan Alatas.
Pada 2000, Habib Hasan bin Ja'far Assegaf mendirikan sebuah majelis yang menjadi sebuah wadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt dan Rasulullah, yang dinamai Majelis Nurul Musthofa. Nama "Nurul Musthofa" diambil dari gelar Rasulullah Saw yang berarti "cahaya pilihan". Awalnya, majelis ini dimulai dengan pengajian Al-Qur’an dan zikir-zikir yang diselenggarakan dari rumah ke rumah.
Pada 2001, Majelis Nurul Musthofa mendapat kunjungan istimewa dari Al Habib Umar bin Hafidz dan Al Habib Anis Bin Alwi al-Habsyi. Kedua ulama tersebut memberikan ijazah dan meresmikan nama Majelis Nurul Musthofa.
Pada tahun yang sama, sejarah Rasulullah Saw dikenalkan melalui pembacaan Al-Qur’an, zikir-zikir, dan nasihat agama. Dari awal yang hanya dihadiri oleh 10 orang, majlis ini berkembang pesat menjadi ratusan orang.


