Menilik Jejak Sejarah Ki Ageng Pengging Sepuh, Dikenal Juga Sebagai Guru Dari Maheso Jenar

Menilik Jejak Sejarah Ki Ageng Pengging Sepuh, Dikenal Juga Sebagai Guru Dari Maheso Jenar
Makam Ki Ageng Pengging Handayaningrat. Lokasi makam berada di wilayah Pengging Kamardikan, Banyudono, Boyolali. Foto: Istimewa
SOLO RAYA
Sabtu, 31 Des 2022  06:54

Kisah kematian Kebo Kenanga dan Syekh Siti Jenar serta dialog yang menyertainya menjadi cerita klasik yang selalu menarik untuk dibaca. Kekuasaan Demak tak berlangsung lama dan digantikan Kesultanan Pajang yang didirikan Karebet, anak Kebo Kenanga. Kesultanan Pajang juga tak berumur panjang dan digantikan Mataram yang didirikan Sutawijaya dan Ki Ageng Pemanahan. Sutawijaya adalah cucu Ki Ageng Henis atau cucu buyut Ki Ageng Sela yang juga keturunan langsung Raja Brawijaya V.

Peninggalan menarik lainnya di Makam Ki Ageng Pengging Sepuh Boyolali adalah arca yang disebut oleh Ki Narto bernama Nyai Bendrong. Arca itu dibungkus kain, namun Ki Narto memenuhi permintaan saya untuk membuka kain penutup arca. Arca itu bagian wajahnya sudah rusak, hanya saja masih menyisakan keempat tangan kirinya yang relatif masih utuh.

Dugaan saya, patung ini adalah Durga Mahisasuramardini, isteri Siwa yang berdiri di atas kerbau jelmaan Asura. Pada arca utuh, empat tangan kanan Durga memegang Camara (kebut lalat), Cakra, Trisula serta menarik ekor lembu, dan empat tangan kirinya membawa Sangkha (kerang), Kadga (pedang), Parasu (kapak), serta menarik tangan raksasa kerdil yang keluar dari kepala lembu. Raksasa kerdil itu masih terlihat pada patung di atas.

Penelusuran tentang makam ini membawa saya membaca kembali cerita SH Mintardja tentang tokoh Panembahan Ismaya di Padepokan Karang Tumaritis. Bersama Kebo Kanigara, Mahesa Jenar membongkar rahasia Panembahan Ismaya yang ternyata adalah Pasingsingan Sepuh dan sejatinya bernama Raden Buntara, adik Brawijaya V dari garwa ampeyan.

Raden Buntara menyepi ke Karang Tumaritis karena difitnah sebagai pengganggu isteri seorang tumenggung yang mengikuti Raja Brawijaya V menyingkir ke daerah Gunung Kidul setelah Majapahit runtuh. Itu lantaran Raden Buntara mencium rencana jahat sang tumenggung untuk menguasai harta benda yang dibawa sang raja sebagai bekal menyepi.

Sayang Raja Brawijaya V dan Sultan Trenggana tak percaya pada keterangan Raden Buntara, dan hanya seorang jajar tua yang mempercayainya, namun jajar itu pun dibunuh oleh komplotan sang tumenggung. Raden Buntara akhirnya menyepi dan selalu menggunakan topeng ketika berkelana serta menggunakan sebutan Pasingsingan, nama jajar tua yang telah mati itu.

Dalam kisah itu, Panembahan Ismaya mengatakan bahwa Ki Ageng Pengging Sepuh adalah keponakan yang paling dekat dengannya, sehingga ketika Kebo Kanigara masih kecil ia sering mendengar ayahnya menyebut nama Eyang Buntara.

Adalah merupakan sebuah kebahagiaan yang tak ternilai harganya, ketika sebuah perjalanan dan kunjungan ke Makam Ki Ageng Pengging Sepuh Boyolali ini telah mampu menghidupkan kembali kenangan dan kisah masa lalu yang telah ikut mewarnai dan membentuk pikir dan rasa kecintaan pada romantisme sejarah negeri yang hebat ini. (Awi)

<<
1
2
3
Tampilkan Semua
TAG:
#sejarah
#ki ageng pengging
#boyolali
Berita Terkait
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Indeks Berita