Rupiah Terus Melemah Sentuh Rp17.825 per Dolar AS, DPP MAUNG Pusat Sorot & Sampaikan Langkah Penyeimbang
Perkuat Insentif Ekspor: Pemerintah harus mempercepat pengembalian pajak dan memudahkan birokrasi bagi eksportir produk unggulan, terutama komoditas nonmigas dan hasil olahan bernilai tambah tinggi, agar arus masuk devisa makin deras.
Pengendalian Impor Barang Konsumsi: Terapkan aturan ketat dan tarif bertingkat bagi barang mewah serta barang yang sudah bisa diproduksi di dalam negeri, agar permintaan valas tidak memuncak.
Optimalisasi Cadangan Devisa: Pastikan cadangan devisa tidak hanya cukup untuk kebutuhan impor dan pembayaran utang, tapi juga tersedia untuk meredam gejolak spekulasi secara terukur.
Edukasi & Pengawasan Pasar Valas: Perluas sosialisasi aturan baru BI serta perketat pengawasan terhadap transaksi mencurigakan yang berpotensi memanfaatkan ketidakpastian untuk keuntungan sepihak.
Percepat Hilirisasi: Kurangi ketergantungan ekspor bahan mentah, bangun industri pengolahan agar nilai jual produk Indonesia makin tinggi dan tidak mudah tergantung fluktuasi harga dunia.
“Kestabilan rupiah adalah kepentingan rakyat luas, bukan hanya urusan bank sentral. Jika dibiarkan terus melemah, biaya kebutuhan pokok, biaya pendidikan, hingga cicilan utang luar negeri makin berat. MAUNG mengingatkan pemerintah harus bekerja lebih cepat dan terpadu,” tegas Syarief.
Sampai berita ini ditayangkan, nilai tukar masih bergerak fluktuatif mengikuti perkembangan situasi di Timur Tengah. DPP MAUNG Pusat mengingatkan seluruh pemangku kepentingan agar tetap waspada dan tidak lengah, karena ketahanan nilai tukar rupiah merupakan cerminan kekuatan ekonomi bangsa sekaligus penjamin kesejahteraan jutaan rakyat Indonesia.
MAUNG akan terus memantau setiap kebijakan yang diambil pemerintah dan Bank Indonesia, serta tetap siap menyuarakan aspirasi masyarakat demi terciptanya stabilitas ekonomi yang berkelanjutan.
(Team)


