Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi Edukasi Masyarakat soal Histamin pada Ikan melalui PESISIR Seri ke-4

Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi Edukasi Masyarakat soal Histamin pada Ikan melalui PESISIR Seri ke-4
 
JABAR
Sabtu, 10 Okt 2026  21:41

aliansinews.id - Sukabumi, Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi kembali menghadirkan edukasi kepada masyarakat melalui program Pesan Edukasi dan Sajian Informasi Seputar Perikanan (PESISIR) Seri ke-4. Kali ini, informasi yang disampaikan mengangkat pertanyaan yang kerap muncul di tengah masyarakat, yakni mengapa makan ikan bisa menyebabkan gatal?

Melalui tema “Makan Ikan Kok Bisa Gatal? Bisa Jadi karena Histamin”, masyarakat diajak mengenal histamin, memahami proses terbentuknya pada ikan, serta mengetahui langkah-langkah pencegahannya agar ikan tetap aman dikonsumsi.

Histamin merupakan senyawa yang secara alami dapat ditemukan dalam tubuh manusia dan berperan dalam berbagai proses biologis. Namun, histamin juga dapat terbentuk pada ikan tertentu ketika bakteri menguraikan asam amino histidin yang terdapat dalam daging ikan, terutama apabila ikan tidak ditangani dan disimpan pada suhu yang tepat.

Pembentukan histamin umumnya menjadi perhatian pada ikan yang memiliki kandungan histidin tinggi, seperti tuna, tongkol, cakalang, dan sejumlah jenis ikan lainnya. Ketika ikan tersebut tidak segera didinginkan setelah ditangkap atau penyimpanannya tidak terjaga, bakteri dapat menghasilkan histamin dalam jumlah yang berbahaya.

Konsumsi ikan dengan kadar histamin tinggi dapat menimbulkan keracunan histamin atau scombroid poisoning. Gejalanya dapat berupa wajah kemerahan, rasa panas pada kulit, gatal-gatal, sakit kepala, jantung berdebar, serta gangguan pencernaan seperti mual dan diare. Keluhan biasanya muncul relatif cepat setelah mengonsumsi ikan yang terkontaminasi histamin.

Hal penting yang perlu diketahui masyarakat adalah keracunan histamin bukan selalu berarti seseorang mengalami alergi ikan. Gejalanya memang dapat menyerupai reaksi alergi, tetapi penyebabnya berbeda. Alergi ikan merupakan reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap protein ikan, sedangkan keracunan histamin terjadi akibat konsumsi histamin dalam jumlah berlebihan.

Untuk mencegah terbentuknya histamin, penanganan ikan harus dilakukan dengan baik sejak setelah penangkapan. Ikan perlu segera didinginkan, dijaga dalam rantai dingin selama penyimpanan dan distribusi, serta diolah dengan memperhatikan kebersihan dan keamanan pangan.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa ikan yang mengandung histamin tinggi belum tentu menunjukkan perubahan bau, warna, maupun rasa. Memasak, membekukan, atau memanaskan kembali ikan tidak dapat diandalkan untuk menghilangkan histamin yang sudah terbentuk.

Melalui PESISIR Seri ke-4, Dinas Perikanan Kabupaten Sukabumi mengajak masyarakat untuk lebih cermat dalam memilih, menyimpan, dan mengolah ikan. Pengetahuan mengenai keamanan pangan menjadi bagian penting agar manfaat gizi ikan dapat diperoleh tanpa mengabaikan keselamatan konsumen.

1
2
Berikutnya
Tampilkan Semua
TAG:
#
Lembaga Aliansi Indonesia
Berita Terkait
Rekomendasi
1
2
3
4
5
6
7
Indeks Berita