Gempa M 6,7 guncang Palu, trauma Sesar Koro kembali muncul
Namun jauh sebelum itu, para geolog dunia sudah gemetar melihat potensinya.
Istilah Palu Koro pertama kali diperkenalkan pada tahun 1902-1903 oleh duo naturalis Swiss, Paul dan Karl Sarasin.
Ketakutan para peneliti terbukti ketika pada 1 Desember 1927, gempa berkekuatan estimasi magnitudo 7,9 yang bersumber dari sesar ini meluluhlantakkan wilayah antara Palu dan Donggala.
Sejak saat itu, setidaknya ada empat gempa raksasa berskala magnitudo 6,1 hingga magnitudo 7,9 yang terus berulang, membuktikan bahwa sesar ini adalah "bom waktu" yang aktif.
Lalu mengapa gempa pagi ini terasa begitu menghentak dan mengerikan? Jawabannya ada pada struktur geologinya.
Indonesia berdiri di atas tiga lempeng raksasa yaitu Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Benturan mikrokontinen Banggai-Sula jutaan tahun lalu melahirkan Sesar Palu Koro.
Patahan ini tergolong sangat aktif dan membelah daratan sepanjang 500 kilometer. Separuhnya, sekitar 250 kilometer, membelah Kota Palu secara tegak lurus ke arah selatan, mengikuti alur Sungai Palu, melewati Kulawi, Gimpu (di mana nama Sungai Koro berada), hingga berakhir di Teluk Bone.


