Pengkajian Maung & Rajawali: Kala Bendu Ramalan Prabu Jaya Baya Telah Nyata di Depan Mata
Nilai gotong royong, etika kerja, dan tanggung jawab sosial memudar; muncul perilaku mementingkan diri sendiri dan keuntungan sesaat.
Mutu pendidikan dan pembinaan sumber daya manusia menurun, sehingga generasi penerus berisiko kurang kompetitif.
- Infrastruktur dan proyek pembangunan tertunda, mangkrak, atau mubazir akibat korupsi dan ketidakstabilan; biaya perbaikan di masa depan menjadi jauh lebih mahal.
*Makna Peringatan dan Visi MAUNG & RAJAWALI*
Di akhir kajiannya, Hady menegaskan bahwa ramalan Kala Bendu bukanlah vonis takdir yang tak terelakkan, melainkan tanda peringatan keras.
"Kala Bendu hadir untuk membuka mata kita atas keruntuhan struktur sosial dan moral yang terjadi. Di saat yang sama, ia justru membuka jalan bagi pembaharuan total, kelahiran kesadaran baru, serta terbentuknya sistem kepemimpinan yang lebih adil dan berintegritas.
Pilihan ada di tangan kita: membiarkan kegelapan melahap, atau bangkit bersama membangun cahaya baru," pungkas orang nomor satu di DPP MAUNG dan RAJAWALI.
Bagi MAUNG dan RAJAWALI, visi kebersamaan adalah kunci keluar dari masa sulit ini:
"MAUNG hadir untuk mengawasi, mengingatkan, dan memperjuangkan agar aparatur serta penyelenggara negara kembali pada amanah dan kebenaran. RAJAWALI bergerak menyebarkan kesadaran, menjaga kebebasan informasi, dan menyatukan suara jurnalis serta lembaga kemasyarakatan.
Bersama, kami bertekad menjadi perisai bagi keadilan, pelita bagi kebenaran, dan jembatan yang menyatukan seluruh elemen bangsa—agar kita berjalan melewati Kala Bendu menuju masa depan yang bermartabat, sejahtera, dan beradab."


